Rabu, 10 April 2013
Apa kehendak Tuhan dalam hidup Anda?
Apa kehendak Tuhan dalam hidup Anda? Banyak orang ingin melakukan kehendakNya tapi mereka bergumul karena mereka tak tahu apa kehendak-Nya 1. Tuhan mempunyai rencana besar untuk hidup anda ! Kita adalah ciptaan Tuhan, sesuai dengan rupaNya, untuk suatu tujuan. Seperti Tuhan memanggil Nabi Yesaya (Yesaya 49:1), Yeremia (Yeremia 1:5) dan Paulus (Galatia 1:15) untuk suatu tujuan khusus, Ia pun mempunyai rencana khusus dalam hidupmu.
Kamis, 21 Maret 2013
Kasih itu Menghapuskan
Di
salah satu toko ada seorang gadis kecil membeli banyak pensil dan
penghapus. Penjaga toko pun sangat heran karena gadis kecil itu hanya
membeli pensil dan penghapus tanpa membeli satu buku pun.
Penjaga toko pun bertanya, “Mengapa kau membeli banyak pensil dan penghapus? mengapa kau tak membeli buku?”
Gadis
kecil pun tersenyum dengan lebar dan menjawab, “Aku sangat membutuhkan
pensil dan penghapus karena aku cukup mempunyai selembar kertas saja.
Kertas itu adalah hatiku, bila ada yang menyakiti aku, akan kutulis
semua pada kertasku, bila sudah penuh maka aku akan menghapusnya
sehingga tak ada dendam di hatiku.”
Penjaga
toko pun sedikit kebingungan, “Apa yang kau tulis? Bukankah dengan
menuliskannya maka kau akan selalu melihat dan mengingatnya?”
Sekali
lagi dengan tersenyum gadis kecil itu memberikan jawaban yang luar
biasa, “Aku akan menuliskan namanya dan hal yang dia perbuat padaku. Aku
akan selalu mengingatnya agar tak lupa mendoakannya setiap malam.”
Kasih
itu mampu menghapuskan segala sesuatu yang jahat. Kasih mampu mengubah
kutuk menjadi berkat. Kasih mampu memulihkan hati yang terluka karena
kasih yang sesungguhnya itu berasal dari Allah.
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
1 Petrus 4:8
Sayangilah Tubuhmu!
Ada
banyak muda mudi yang hidupnya selalu dituntut oleh tren. Mereka ingin
selalu terlihat keren dan tidak ingin disaingi oleh temannya yang lain.
Harga diri menjadi alasan utama mereka agar selalu menjadi pusat
perhatian.
Mengukir tato pada tubuh,
memasang anting yang tidak pada tempatnya, menindik hidung, atau pun
yang mau unjuk kekebalan seperti menginjak paku serta memakan
beling/pecahan kaca. Apa yang menjadi tren di masyarakat, itulah yang
akan dikejar.
Sayangilah tubuhmu! Di
dalam tubuh kita ini ada Roh Allah. Dengan tubuh kita inilah, kita bisa
memberkati orang lain. Selain itu yang terutama adalah dengan tubuh
jasmanilah kita juga menyembah Tuhan.
Kita
adalah kesaksian yang hidup untuk menyaksikan kebaikan Tuhan biar
orang-orang di sekitar kita dapat melihat secara nyata betapa besar dan
ajaibnya Tuhan kita. Sayangilah tubuhmu! Jaga dan rawat dengan baik apa
yang sudah Tuhan berikan kepada kita karena tubuh yang sehat adalah
berkat yang berharga.
Atau
tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu
bukan milik kamu sendiri?
1 Korintus 6:19
Sabtu, 02 Februari 2013
"Pernahkah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"
"Pernahkah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"
kata-kata itu selalu ia ucapkan pada kekasihnya itu.
Gadis itu benar-benar mencintai seseorang yang sepantasnya ia pangil paman.
Begitu cintanya ia kepada laki-laki itu sampai ia rela lakukan apa saja asal bisa bersama denganya.
Tidak perduli dengan apapun.
"Aku mencintaimu, tapi maaf tidak bisa menikahimu."
Entahlah.
Berkali-kali
laki-laki itu mengucapkan kata cinta tetap saja banyak keraguan didalam
hati gadis itu. Dalam benaknya hanya terpikir kalau laki-laki itu hanya
ingi mempermaninkanya.
"Kau tahu aku milik orang lain, tapi mengapa tetap memaksakan hubungan ini?"
gadis kecil itu
tidak pernah bisa menjawab, mengapa ia selalu memaksakan hubungan yang
sudah jelas akhirnya. hanya sebuah kalimat kecil yang selalu menyertai
jawabanya. "Karena aku cinta."
Hari dimana
mereka harus berpisah semakin dekat. hari itu begitu menyakitkan untuk
gadis itu. ia selalu memohon pada kekasihnya agar selalu menemaninya di
hari-hari terakhirnya bersama kekasihnya itu.
"Temani aku ya, tiga hari ini saja. setelah itu semuanya berakhir."
kekasihnya tidak pernah menjawab iya ataupun tidak. hanya seperti mengantungkan harapan pada gadis itu.
"Kalau bukan karena cinta." gadis itu mulai meneteskan air mata "Temanilah aku karena kau kasihan padaku."
Tapi entah
mengapa kekasihnya tetap saja tidak bisa menemaninya, bahakan hingga
hari terakhir dia berada disana kekasihnya tetap diam dan tidak
menemuinya.
"Mengapa kau
seperti ini kepadaku? apakah aku benar-benar tidak ada artinya untukmu.
apakah tidak ada sedikitpun cinta untukku. mengapa kau tidak mau
menemuiku. padahal esok kita akan berpisah."
Entah sudah
berapa banyak air mata yang telah ia buang untuk kekasihnya itu. ia
merasa saat ini cintanya pada laki-laki itu benar-benar tidak ada
artinya. sedikitpun laki-laki itu tidak perduli dengan perasaanya.
Kini ia hanya tinggal menghitung jam sampai pagi menjelang dan semuanya berakhir.
"Tuhan, mengapa
aku begitu tidak ikhlas kehilangannya. Padahal Engkau sudah
memperingatkanku untuk jangan mencintainya. Bahkan akupun tahu dia takan
pernah menjadi milikku."
Jarum panjang
pada jam dinding itu masih terus berputar. dan entah mengapa lajunya
semakin cepat. Beberapa saat kemudian handphone gadis itu berdering.
"Aku didepan rumahmu, keluarlah."
gadis itu berlari kencang keluar rumah, berharap kali ini benar-benar kekasihnya yang ada diluar sana.
Ya, memang dia.
berdiri menunduk didepan mobilnya. entahlah, wajahnya tak begitu
nampak. apaka dia sedih atau senang gadis itu tidak pernah tahu.
Jam menunjukan
pukul 11.45 pm. Malam ini terasa begitu dingin, tapi gadis itu hanya
berlari pergi mengejar kekasihnya hanya dengan sedal jepit dan celana
pendek serta baju tipisnya.
"Kau tidak ada baju lain?"
gadis itu hanya menggeleng.
"Kenapa tidak pakai jaket?"
"Semuanya sudah kumasukan dalam koper."
Dia masih tetap diam. tidak banyak kata yang dia ucapkan malam itu.
"Kau tidak mau memelukku?" gadis itu menatap kekasihnya pelan.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Tidak ada."
"Kau tidak mencintaiku?"
"Aku cinta padamu."
"Tapi mengapa kau terus menyakitiku?"
"Karena kau juga menyakitiku."
"Aku, menyakitimu? apa, apa yang membuatmu tersakiti."
"Sudahlah, kita ganti topik saja!!" wajah laki-laki itu tampak sedikit marah dan kesal.
"Kau tidak
pernah menyayangiku. kau lebih suka melihatku menangis kan." air mata
itu sudah terlalu sering dibendung. air matanya sudah tidak tertahan
lagi. semua yang ia rasakan pada kekasihnya ia katakan begitu saja tanpa
perduli dengan apapun.
"Kau senang aku pergi, karena kau bisa dengan mudah dapatkan pengantiku."
semuanya, semuanya sudah diucapkan. bahkan gadis itupun lupa apa yang tadi ia ucapkan pada kekasihnya.
"Ya semuanya
benar!!" laki-laki itu tampak begitu marah. " Kau benar, aku tidak
mencintaimu, tidak menyayangimu, aku hanya memanfaatkanmu, dan ya
semuanya benar bahwa aku hanya orang jahat. kau puas!!!"
kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan gadis itu tanpa seutas senyumpun untuknya.
matahari mulai
nampak. koper-koper itu tampak begitu besar dan berat. Semua
kawan-kawannya sudah bersiap didepan rumah hanya tiggal gadis itu.
"Datanglah sebentar saja kerumahku. Sebentar saja." air mata itu terus mengalir. "Kumohon."
"Aku tidak bisa. aku harus bekerja."
"Sebentar saja."
kekasihnya tidak banyak bicara dan segera mematikan telponya.
Sesaat kemudian sebuah pesan singat masuk ke handphonenya.
Maaf aku tidak bisa datang.
Pulanglah.
Suatu hari nanti aku pasti akan menemuimu.
aku mencintaimu.
Kenapa begitu. kenapa laki-laki itu begitu jahat pada gadis itu.
yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah memohon agar kekasihnya bisa datang.
tapi tetap, kekasihnya tidak pernah datang.
"Tuhan, aku
benar-benar tidak ikhlas dengan semua ini. kalau Kau sayang padaku,
Tuhan. tunjukan padaku kalau dia benar-benar mencintaiku. Perlihatkan
padaku kalau ada aku dihatinya."
Bus itu melaju cepat menuju Airport, hinga Doaaaaaaarrrrrrr.... sebuah kecelakan besar menumbangkan bus itu.
4 dari 13 orang
penumpangnya mengalama cedera berat, termasuk gadis itu. 7 buah mobil
ambulan datang dengan cepat dan mengantarkan mereka ke rumah sakit
terdekat.
gadis itu
tampak tidak merasakan apa-apa padahal lukanyalah yang paling berat. dia
hanya terbaring diam melihat keadaan disekitarnya. hinga seseorang
datang dengan berlari dan segera memeluknya.
"Apa yang terjadi padamu?"
gadis itu tetap dia, kini dia bisa merasakan lukanya, begitu sakit, pedih dan sangat menyiksa.
"Dengarkan aku. semuanya akan baik-baik saja. dokter akan menolongmu."
wajah laki-laki itu tampak begitu khawatir.
"Aku, tidak ingin pergi." suara gadis itu terbata-bata "Tidak ingin meninggalakanmu."
"Kau tidak akan pernah meningalkanku dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Sa-kit... disini sakit." gadis itu mengengam dadanya kencang, seraya mengisyaratkan sesuatu.
"Semuanya akan baik-baik saja. aku tidak akan meningalkanmu."
gadis itu mulai tersenyum tipis.
"Kau mau kita
berpisah kan, sekarang kita akan berpisah. Tuhan tidak mau kita bersama.
Dia ingin aku menemaniNya. karena kau tidak bisa menemaniku." Senyum
gadis itu semakin melebar tapi wajahnya masih tampak kesakitan. "Kau mau
aku pulang kan, aku akan pulang tapi kau tidak bisa menemuiku lagi."
laki-laki itu hanya terdiam. matanya mulai memerah.entah apa yang kini bergejolak dihatinya. begitu pedih dan menyakit.
"Sayang, Pernahkah Kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"
tubuh gadis ini
begitu dingin. denyut nadi dan detak jantungnya mulai tak terdengar.
darah segar masih terus mengucur dari hidung dan kepalanya. dan senyum
manisnya dibibirnya menemani matanya yang kini mulai tertutup.
Entahlah harus berapa kali kukatakan bahwa aku mencintaimu.
Entahlah apa yang harus kulakukan agar kau percaya aku menyayangimu.
Kau tahu kita takkan pernah bisa bersama, tapi kau terus memaksakan semuanya.
Kau tahu aku tidak akan bisa melihatmu pergi tapi kau terus memaksaku untuk datang.
Kau tahu aku tidak akan bisa melihatmu pergi tapi kau terus memaksaku untuk datang.
Sekarang kau benar-benar meningalkanku dan berkata bahwa aku bahagia tanpamu.
Penahkah aku mencinkaimu seperti kau mencitaiku?
Aku pernah mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu dan cintaku lebih besar dari cintamu kepadaku
Jumat, 11 Januari 2013
Berjalan Di Tengah Badai
“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, Aku bertanya.
“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.
Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.
Aku tetap mengemudi dgn bersusah payah.
Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.
Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku.
Aku mulai takut.
Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.
Setelah melewati bbrpa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pd daerah yg kering & kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.
“Silakan kalau mau berhenti dan keluarlah”, kata Ayah tiba-tiba.
“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.
“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai”.
Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat.
Dan aku mengerti mngapa ayah menyuruhku tetap mengemudi dan berjalan di tengah badai. Aku mlihat mreka yg berhenti dan akkhirnya terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika kita sdg menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jgn berhenti, jgn putus asa…Sebaliknya teruslah berjalan dan tetap lakukan yang terbaik, serta tentunya mengijinkan Tuhan menuntunmu, engkau pasti mampu melewati badai itu..!
Bersabar Dalam Pencobaan

Dalam Alkitab, Yakobus mengatakan bahwa saat kita menghadapi pencobaan, kita harus menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan. Perhatikan, dia tidak mengatakan “jika” kita menghadapi pencobaan atau kesulitan. Tidak, setiap orang di planet ini pasti akan menghadapi tantangan, hambatan dan kesulitan. Kita semua memiliki saat-saat dimana harapan kita tidak terpenuhi, seorang teman membuat kita down, atau hal-hal yang ternyata tidak terjadi sesuai seperti yang kita rencanakan.
Tapi kita tidak bisa membiarkan tantangan-tantangan menjadi batu sandungan yang menghancurkan kita dan mempengaruhi iman kita. Sebaliknya, kita harus mengubahnya menjadi batu loncatan untuk membuat kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan!
Setiap pencobaan ataupun setiap kesulitan yang kita alami adalah saat yang menentukan dalam hidup kita. Kesulitan tersebut bisa menghambat kita atau justru bisa mendorong kita untuk maju menuju hal-hal baik yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Kitalah yang memutuskan bagaimana hal-hal itu akan mempengaruhi kehidupan kita.
Jika kita memilih untuk menjadi pahit dan marah, terus-menerus mengeluh tentang apa yang terjadi, maka kita tidak akan pernah bergerak maju.
Tetapi jika kita memilih untuk memiliki sikap positif, tetap bertahan dalam iman, dan jika kita memilih untuk menemukan sukacita bahkan di tengah-tengah pencobaan kita, maka kita dapat bergerak maju dalam damai dan kemenangan dari Tuhan.
Saya suka hal yang Yakobus katakan kepada kita mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya: ketika kita membiarkan kesabaran untuk bekerja dalam hidup kita, kita menjadi sempurna, tidak kekurangan apapun! Itu sebabnya kita bisa “menganggapnya sebagai kebahagiaan” — karena pada sisi yang lain, kesulitan itu merupakan tempat dari keutuhan, kelimpahan, penyediaan dan kemenangan!
Hanya Bergantung Pada Tuhan
Rahasia Menjadi Kuat dalam Hidup

(2Tawarikh 14:11)
Sebuah dongeng kuno dari Indonesia menceritakan tentang seekor kura-kura yang dapat terbang. Ia menggigit sebatang kayu yang dibawa oleh dua ekor angsa. Pada saat kura-kura itu mendengar orang-orang dari darat yang melihatnya berkata, Wah, cemerlang sekali ide angsa-angsa itu! harga dirinya sangat terluka sehingga ia berteriak, Itu ideku! Tentu saja ia jadi kehilangan pegangan. Harga dirinya telah menjadi kehancuran bagi dirinya.
Selama empat puluh satu tahun, Asa menjadi raja yang kuat dan rendah hati. Ia membawa kedamaian dan kemakmuran bagi kerajaan Yehuda. Dan pada tahun-tahun awal pemerintahannya, Asa menaikkan doa demikian, Ya Tuhan, selain daripada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar (2Tawarikh 14:11).
Namun pada akhir pemerintahannya, ketika pasukan kerajaan Israel bagian utara menyerangnya, Asa mencari pertolongan dari raja Siria dan bukannya dari Allah. Karena kebodohannya, pemerintahannya melemah dan bangsanya mengalami peperangan. Apa yang salah dalam hal ini? Karena bangga dengan keberhasilan masa lalu, Asa telah lupa bahwa seharusnya ia bergantung pada Tuhan, sehingga Tuhan tak lagi menunjukkan diri-Nya kuat demi kepentingan Asa (2Tawarikh 16:9).
Allah masih mencari orang-orang yang mengizinkan Dia untuk menunjukkan kekuatan-Nya dalam hidup mereka. Hidup dengan rendah hati dan bergantung pada Allah merupakan ide yang benar-benar cemerlang!
Perbedaan Iman Dan Perasaan

Mengapa seseorang yang dapat mengubah keyakinannya secara radikal (atau terlihat radikal) dan sangat bersemangat dengan iman barunya, tiba-tiba menyerah begitu saja? Pada awalnya, orang itu sepertinya mengalami perubahan yang paling menakjubkan, tapi tiba-tiba, ia berhenti dan kemudian melangkah pergi. Bagaimana itu bisa terjadi?
Saya berpendapat bahwa orang tersebut sesungguhnya dari awal tidak berniat mengubah keyakinannya. Ini bukan tentang perasaan sesaat, melainkan tentang ujian waktu. Jika seseorang adalah orang Kristen sejati, maka ia akan melanjutkannya – meskipun tidak sempurna dan bercacat cela dalam menjalani kekristenannya. Bahkan seorang Kristen pun bisa saja tersesat untuk sementara waktu.
Tetapi bagi seseorang yang benar-benar percaya, maka ia akan selalu kembali. Jika mereka pergi dan tidak pernah kembali, maka mereka bukan orang percaya. Seperti pada 1 Yohanes 2:19 dikatakan, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”
Bisa jadi mereka membangun iman mereka diatas pengalaman emosional, dan bisa saja timbul perasaan dalam mengalami perubahan keyakinan, meskipun tidak selalu terjadi. Tapi Anda tidak bisa membangun hidup Anda diatas perasaan sesaat, karena perasaan atau emosi datang dan pergi. Seseorang yang berharap merasakan kehidupan Kristen yang mengebu-gebu setiap harinya, akan kecewa ketika mereka bangun pagi dan tidak merasakan apa-apa. Maka itulah saatnya bagi mereka untuk mulai tumbuh dan berjalan dengan iman, bukan dengan perasaan.
Roma 1:17 mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Namun beberapa orang membangun seluruh relasi mereka dengan Tuhan diatas pengalaman emosional, dan ketika perasaan itu tidak ada, mereka menyerah. Mereka membangun hidup mereka di atas dasar yang salah.
Kisah Mengharukan Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya
Juli 27, 2012 — ZULFITRIANSYAH PUTRA
Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar
meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak
tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.
Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk
bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang
dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman
rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Kemurahan hati Tuhan

Jika Anda berkata, “Tuhan, aku melihat-Mu sebagai satu-satunya sumber mata pencaharianku, dan ketika aku membutuhkan, aku akan menanam benih,” maka Anda dapat mengharapkan Tuhan untuk mengirimkan panen.
Tuhan akan memberikan buah dari benih yang Anda tanam, bukan karena Anda telah bekerja keras atau menghayati pekerjaan Anda, tetapi semata hanya karena anugerah Tuhan.
Dia setia, dan Dia dapat diandalkan.
Dia akan menyediakan semua kebutuhan Anda, Dia akan memenuhi janji-Nya.
Sekarang pahami hal ini: Tuhan bukan mesin penjual otomatis.
Dia bukan jin yang muncul untuk melakukan setiap perintah Anda, dan Diapun bukan hamba Anda.
Dia adalah seorang Bapa yang penuh kasih, yang terus-menerus membuktikan prinsip-prinsip yang Ia buat melalui Firman-Nya.
Dia menunjukkan kepada kita melalui tokoh-tokoh di dalam Alkitab yang percaya pada Tuhan dan berkata, “Aku akan memberi dari kekuranganku, apakah itu uang, waktu, energi, ide, ataupun empati.”
Alkitab mengatakan, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Matius 7:11)
dan “Hai kalian para ayah, jika anak kalian minta roti, apakah akan kalian beri batu? Jika ia minta ikan, apakah akan kalian beri ular?” (Lukas 11:11).
Tidak mungkin! Allah mengasihi anak-anak-Nya dan Allah sedang menunggu untuk melakukan apa yang tidak terbayangkan dalam hidup Anda.
Allah Dialah yang sanggup menyediakan apa yang Anda butuhkan tapi bukan apa yang Anda inginkan, Dia sangat mengasihi Anda.
Langganan:
Postingan (Atom)