Selasa, 24 April 2012

Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.
Pada suatu hari, ayah dan ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.
Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.
Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta ijin kepada abangnya.
“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”
“Untuk keperluan apa, Dik?”
“Aku ingin berburu babi hutan.”
“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”
Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.
“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.
Ia pun segera mengejar babi hutan itu, namun pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.
“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.
Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.
“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”
Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.
“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.
Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.
“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.
“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.
Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.
“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.
“Aku seorang putri raja yang berkuasa di istana ini.”
“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”
“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”
“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”
“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”
Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.
Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.
Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.
“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”
“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”
Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:
“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”
“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.
Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.
Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.
“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.
Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.
“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.
“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.
“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.
Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.
Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.
Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.
Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.
Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada dua pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu agar tidak bersifat curang dan egois.
- sifat curang. Sifat ini tercermin pada sifat Sangmaima yang telah menipu abangnya dengan menyuruh wanita burung Ernga pergi dari rumah abangnya secara sembunyi-sembunyi, sehingga abangnya mengira wanita burung Ernga itu hilang. Dengan demikian, abangnya akan merasa bersalah kepadanya.
- sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Sangmaima yang tidak mau memaafkan abangnya dan tidak bersedia menerima ganti rugi dalam bentuk apapun dari abangnya.
note: Ernga – kumbang hijau yang menyerupai burung, yang sangat nyaring suaranya ketika menjerit pada waktu maghrib.

Jumat, 13 April 2012

HATIKU, TEMPAT KEDIAMAN KRISTUS

Di suatu senja, ku undang Kristus memasuki hatiku. Betapa indahnya saat itu! Bukan suatu pengalaman emosi yang gegap gempita, namun suatu pengalaman yang sungguh. Sesuatu terjadi dipusat hidupku. Dia memasuki kegelapan hatiku dan merubahnya menjadi terang. Dia menghangatkan hatiku dan mengenyahkan kedinginannya. Dia menyenandungkan musik, menggantikan hati yang hening sepi. Kekosongan hatiku digantiNya dengan persekutuan ajaib dan penuh kasih dengan diriNya sendiri. Tindakanku membuka hati bagi Kristus, belum pernah kusesali, dan tak akan pernah ~ sampai kekal sekalipun!
Dalam kesukaanku atas hubungan baru ini, ku katakan pada Yesus Kristus, "Tuhan, ku ingin agar hatiku ini menjadi milikMu sepenuhnya. Aku ingin Kau berdiam disini dan betah penuh di dalamnya. Segala yang kumiliki, menjadi milikMu. Mari kutunjukkan semuanya kepadaMu."
Ruang pertama yang kutunjukkan ialah tempat belajarku. Di rumahku, tempat tersebut hanya sebuah meja belajar sederhana, penuh sesak dengan berbagai hal, namun sangat penting artinya. Dalam arti tertentu disinilah pusat pengendali segenap isi rumahku. Dia mendekat dan menyelidik, ke buku-buku di rak, majalah- majalah di meja, dan gambar-gambar di dinding. Sambil ku ikuti tatapanNya, aku mulai merasa gelisah.
Anehnya, sebelum ini tak pernah aku merasa seperti ini. Tetapi sekarang ketika Dia menatap semua benda-benda ini, aku merasa malu. MataNya terlalu kudus untuk melihat beberapa buku yang tergeletak disana. Banyak bahan bacaan lainnya yang tidak pantas dibaca oleh seorang Kristen, sementara gambar-gambar yang terpajang di dinding, membangkitkan lamunan dan pikiran yang memalukan.

Pasang Gambar ini dalam Ingatanmu

Aku berbalik kepadaNya dan berkata, "Tuhan, aku tahu bahwa tempat ini perlu di rombak besar-besaran. Maukah Engkau membantuku menjadikannya sebagaimana seharusnya, dan menaklukkan segenap pikiranku kepadaMu?" "Tentu," jawab Yesus. "Pertama, ambil semua hal yang biasa kau baca dan tatap, namun yang tidak berguna, tidak kudus, tidak baik dan tidak benar. Buanglah semuanya itu. Kini, isilah rak yang kosong itu dengan kitab-kitab yang ada di dalam Alkitab. Penuhi kepustakaanmu dengan Kitab Suci dan "renungkanlah itu siang dan malam." ([sweb]Yosua 1:8*[/sweb]). Sedangkan tentang gambar-gambar di dinding itu, memang agak sukar mengendalikannya, tetapi ada sesuatu yang bisa menolongmu. Dia memberikanku gambar diriNya seukuran tubuhNya, "Gantungkan ini di tengah-tengah," ujarNya, "di pusat pikiranmu."
Ku lakukan semua itu dan kualami di waktu-waktu berikutnya bahwa bila perhatianku berpusat pada Kristus sendiri, kekudusan dan kuasaNya membuat khayalan-khayalan kotor terpukul mundur. Demikianlah Dia membantuku menaklukkan segenap pikiranku.
Dari ruang belajar kami beralih ke ruang makan, ruang dari selera dan keinginan- keinginan. Aku banyak meluangkan waktuku di sini dan benar-benar berusaha memuaskan keinginan-keinginanku. Ku katakan kepadaNya, Ruang ini besar dan aku yakin Engkau akan senang dengan apa yang kami sediakan di sini. "Dia duduk dekatku di pinggir meja makan dan bertanya, "Apa daftar makanan malam ini?" "Ayam bumbu rujak, ikan gurami kuah saos, gulai otak dan hati, Rujak Pengantin dan buah-buah segar atau es krim sebagai pencuci mulut," jawabku bangga. Inilah makanan kesukaanku."
Ketika makanan tersebut dihidangkan di hadapanNya, Dia tak berkata apa-apa. Namun ku lihat, Dia tidak menyantapnya. Lalu kataku kepadaNya, "Tuhan, Engkau tidak suka makanan ini? Ada apa rupanya?" Dia menjawab, "PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal ... Jika kau ingin makanan yang benar-benar memberi kepuasan, cari dan lakukanlah kehendak Bapa, bukan kesukaanmu sendiri, bukan keinginanmu, bukan kepuasanmu, tetapi berusahalah menyukakanKu. Makanan itulah yang akan memuaskanmu." Di meja makan itulah, Dia memberikanku cicipan kesukaan melakukan kehendak Allah. Betapa nikmatnya. Betapa segar, kenyang dan kuat, jiwaku dibuatnya. Tidak ada makanan lain seperti ini di seluruh dunia. Hanya ini yang dapat memberi kepuasan.

Saat-saat Indah di Ruang Ini

Dari kamar makan, kami berjalan ke ruang duduk. Suasana ruang ini terasa akrab dan menyenangkan. Aku menyukainya. Ada tempat duduk yang nyaman, ada lubang angin yang dilalui udara segar dan bersih, dan suasana yang tenang mewarnainya. "Benar-benar menyenangkan ruang ini," ujarNya. "Mari kita sering-sering datang ke sini. Tempatnya tersembunyi dan tenang, dan kita bisa bersekutu bersama."
Nah, tentu saja sebagai seorang Kristen muda aku tergugah. Tidak ada hal lain terpikir olehku ingin kulakukan, kecuali memisahkan beberapa menit untuk persekutuan akrab dengan Kristus. Dia berjanji, "Aku akan berada di sini tiap pagi. Temui aku di sini dan kita akan memulai tiap hari bersama-sama."
Demikianlah, pagi demi pagi, aku ke ruang duduk, atau aku lebih senang menyebutnya ruang "pengasingan diri." Dia memilih salah satu kitab dalam Kitab Suci. Kami membukanya dan membacanya bersama. Dia membeberkan kekayaan kitab tersebut dan mengungkapkan kepadaku kebenaran-kebenaran di dalamnya. Hatiku di hangatkan sementara Dia menyatakan kasih dan karuniaNya terhadapku. Alangkah indahnya saat-saat sedemikian.
Lambat laun, di bawah tekanan berbagai tanggung jawab, saat tersebut menjadi makin singkat. Mengapa, aku tak tahu. Tetapi kukira, aku terlalu sibuk untuk meluangkan waktu dengan Kristus. Ini tidak disengaja tentunya, tetapi terjadi dengan sendirinya. Akhirnya bukan saja waktu tersebut memendek, tetapi kadang- kadang aku bahkan kehilangan kesempatan itu sama sekali. Mungkin disebabkan oleh urusan-urusan darurat, satu-dua hari kesempatan bersekutu pribadi dengan Tuhan, ku hilangkan.
Ku ingat, suatu pagi ketika aku sedang bergegas untuk urusanku hari itu, ku lalui ruang pertemuan kami. Ku lihat pintunya terbentang, ku jenguk ke dalam, lampu menyala dan Tuhan sedang duduk di sana. Segera rasa kecewa terhadap diri sendiri, memenuhi diriku. "Dia tamuku. Aku telah mengundangNya masuk ke dalam hatiku. Dia telah masuk, namun aku telah melupakanNya. Sambil tertunduk malu aku berkata, "Tuhan yang agung, ampuni aku. Tuhan terus berada di sini menungguku tiap pagi?" "Ya," jawab Tuhan. "Sudah kukatakan kepadamu, Aku di sini tiap pagi untuk berjumpa tiap pagi untuk berjumpa denganmu. Ingat, aku mengasihimu. Aku telah menebusmu dengan harga yang mahal. Aku merindukan persekutuanmu. Bahkan jika kau tak dapat memelihara saat teduh untuk kepentinganmu sendiri, lakukanlah itu untukKu."
Kenyataan bahwa Kristus menginginkan persekutuan denganKu, bahwa Dia menginginkan aku bersama Dia, bahwa Dia menantikanku, telah banyak merubah saat teduhku dengan Allah, jauh melebihi faktor-faktor pertimbangan lainnya. Jangan biarkan Kristus menanti sendiri di ruang tamu hati anda. Carilah waktu tiap hari, dengan Alkitab anda dan melalui doa, anda boleh bersekutu denganNya.
Mainan bagi Kerajaan Allah?
Tak lama kemudian Dia bertanya, "Apakah rumahmu memiliki suatu ruang kerja?" Di "lantai bawah rumah" hatiku, ada sebuah gudang dengan seperangkat peralatan ala kadarnya yang jarang kugunakan. Kadang-kadang kubuat sedikit kesibukan dengan beberapa peralatan sederhana, namun tidak pernah menghasilkan apapun yang berarti. Aku sering di hinggapi perasaan tidak mampu.
Ku ajak Dia ke sana. Dia menatap dan berkata, "Wah, sebenarnya cukup perlengkapan kau miliki. Apa yang kau hasilkan untuk Kerajaan Allah?" Dia melihat ke beberapa mainan yang telah kulemparkan ke atas bangku. DiambilNya salah satu dan sambil menunjukkannya kepadaku Dia berkata, "Hanya mainan-mainan kecil ini sajakah yang telah kau hasilkan dalam hidup Kristenmu?"
"Ya," sahutku. "Tuhan, aku tahu ini semua tidak berarti. Sesungguhnya aku ingin berbuat lebih banyak, tetapi nampaknya aku tidak memiliki cukup kekuatan atau kemampuan untuk berbuat lebih."
"Inginkah kau melakukan sesuatu yang lebih baik?" tanyanya. "Tentu," jawabku. "Baiklah. Berikan tanganmu kepadaKu. Sekarang tenangkan dirimu dalamKu dan biarkan RohKu bekerja melaluimu. Aku tahu kau lemah dan kurang mampu, tetapi Roh Kudus adalah Pekerja Ajaib. Jika Ia mengendalikan tangan-tangan dan hatimu, Dia akan bekerja melaluimu." Sambil melangkah berputar kebelakangku dan tanganNya yang besar dan kuat menyanggah tangan-tanganku, di pegangNya alat-alat tersebut dalam jari-jariNya yang terampil. Mulailah Dia bekerja melaluiku. Makin aku tenang dan mempercayai Dia, makin Dia bekerja melalui hidupku.
Sesalku tentang Ruang yang Kacau
Dia bertanya apakah aku memiliki tempat untuk bermain. Sebenarnya aku berharap Dia tidak menanyakan hal itu. Ada berbagai hubungan, persahabatan, kegiatan dan kesenangan tertentu yang ingin kusimpan untuk diriku sendiri. Suatu petang, ketika aku ingin pergi bersama teman-teman sekolahku, Dia menghentikanku dengan tatapanNya dan bertanya, "Ingin keluarkah kau malam ini?" "Ya," jawabku. "Bagus," kataNya. "Aku ingin turut bersamamu." "Oh," jawabku agak ragu, "Tuhan Yesus, ku kira Kau tidak sungguh-sungguh ingin pergi denganku. Bagaimana bila besuk malam saja? Besok malam kita akan pergi ke persekutuan doa, tetapi malam ini aku punya janji lain."
"Maaf," kataNya pula. "Ku kira ketika dulu aku masuk ke dalam rumahmu, kita akan melakukan segala sesuatu bersama-sama, sebagai rekan. Ketahuilah, Aku ingin pergi denganMu."
"Ya, besok sajalah kita pergi bersama," jawabku bergumam sambil keluar melalui pintu.
Malam itu adalah malam paling sengsara. Aku merasa diri tidak layak. Sahabat macam apa aku ini terhadap Kristus, sampai-sampai aku sengaja melewati acaraku dengan teman-temanku, tanpa Dia, melakukan hal-hal dan pergi ke tempat-tempat yang ku tahu benar bahwa Dia tidak akan menyukainya.
Waktu malamnya aku pulang, ku lihat cahaya di ruangNya. Akupun masuk dan membicarakan itu kepadaNya. Kataku, "Tuhan, aku sadar kini, aku tidak dapat memiliki waktu yang indah dan berarti tanpa Engkau. Kita akan mengerjakan segala sesuatu bersama-sama. Lalu kami memasuki "ruang main" yang bising dan tak teratur itu dan Dia merubahnya. Dia memberiku sahabat-sahabat baru ke dalam hidupku, kepuasan-kepuasan baru dan kesukaan-kesukaan baru yang menetap. Sejak saat itu, tawa dan lagu bersenandung terus dirumahku.

Ada Bangkai di Rumah Ini

Suatu hari kujumpai Dia menungguku di ambang pintu. Pandangan mataNya tajam menyelidik. Ketika aku masuk, Dia bertanya kepadaku, "Ada bau tertentu di rumah ini. Bau bangkai di sekitar sini. Dari atas arahnya. Aku yakin bau itu keluar dari lemari dinding itu." Begitu dia menyebutkan kata-kata tersebut, aku segera tahu apa yang dimaksudkanNya.
Ya, ada sebuah lemari dinding kecil di atas sana, kecil tak berarti. Di dalam lemari itu, di balik engsel dan kunci, ada satu-dua barang pribadi yang ku tak ingin diketahui oleh Kristus. Aku tahu bahwa barang-barang tersebut busuk dan buruk, tetapi aku masih sangat menyukainya. Ini membuatku merasa takut untuk mengakui, bahwa barang-barang tersebut ada di sana.
Aku naik ke loteng bersama Dia, dan sambil melangkah naik itu, bau busuk tersebut terasa makin kuat juga. Dia menunjuk ke pintu lemari. Aku marah. Hanya itu yang dapat kulakukan. Aku telah memberi Dia izin mencampuri tempat belajarku, kamar makan, ruang tunggu, tempat kerja, kamar main, dan kini Dia masih mempertanyakan pula soal lemari kecil itu. Dalam hatiku aku berkata, "Terlalu. Aku tak akan menyerahkan anak kunci itu kepadaNya."
Membaca pikiranku, Dia berkata, "Jika kau pikir Aku mau tinggal di sini dengan bau sebusuk ini, kau salah sangka. Aku akan keluar ke serambi!"
Ku lihat Dia mulai melangkah menuruni anak tangga. Pertahananku runtuh. Ketika seseorang mulai mengenal dan mengasihi Kristus, hal terburuk yang biasa dialaminya ialah kehilangan hadiratNya. Aku harus menyerah."
"Aku akan menyerahkan padaMu kuncinya," ujarku sedih. "Tetapi Engkaulah yang harus membuka lemari itu dan membersihkannya. Aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukannya sendiri."
"Serahkan saja kuncinya padaKu," jawabNya. "Berikan padaKu hak untuk mengatur lemari itu."

Ambil Alih Seluruh Kendali

Dengan jari-jari yang gemetar, ku serahkan kunci itu kepadaNya. Dia mengambilnya dan berjalan ke pintu, membukanya, memasuki, mengambil keluar barang-barang yang sedang melapuk dan membusuk dan melemparkannya ke luar. Kemudian Dia membersihkan lemari itu dan mencatnya ulang. Dalam sekejap waktu saja, semuanya sudah selesai. Oh betapa dalamnya kemenangan dan kelepasan yang kualami, sesudah "bangkai" busuk itu keluar dari hidupku!
Selintas terpikir olehku, "Tuhan, adakah kemungkinan Engkau mengambil alih pengelolaan seluruh isi rumah ini dan menjalankannya untukku, seperti yang sudah Kau lakukan dengan lemari tadi? Maukah Kau mengambil tanggungjawab untuk menjaga hidupku, supaya sesuai dengan yang seharusnya?"
Wajahnya berseri-seri ketika Dia menjawab, "Tentu saja, itulah yang selama ini ingin Ku lakukan. Kau tak akan mampu menjadi Kristen berkemenangan dalam kekuatanmu sendiri. Izinkan Aku melakukannya melaluimu dan untukmu. Itulah rahasianya. Tetapi," lanjutnya perlahan, "Aku di sini hanya seorang tamu. Aku tidak memiliki hak untuk berbuat semauKu, sebab harta-milik di sini bukan milikKu."
Sambil tersungkur bertelut, aku berkata, "Tuhan, selama ini Kau ku perlakukan sebagai tamu dan aku bertindak sebagai tuan rumah. Mulai saat ini seterusnya, aku yang menjadi pelayanMu. Engkaulah yang menjadi Tuhan di sini." Dengan berlari sekuat tenagaku menuju kotak penyimpan surat-surat berharga, ku keluarkan buku daftar kepunyaanku, semua harta dan hutang piutangku. Dengan penuh kesungguhan ku tandatangani bukti penyerahan rumah dan isinya kepadaNya saja untuk sekarang dan selama-lamanya. "Ini," kataku "Inilah semua yang kupunya dan seluruh keberadaanku, selama-lamanya. Sekarang Kau aturlah rumahku. Aku akan setia kepadaMu sebagai hamba dan sahabat."
Segalanya berubah dan berbeda, sejak Yesus Kristus menetap dan mendiami sepenuhnya rumah hatiku.

Jumat, 16 Maret 2012

Waktu Berumur

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai 

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembokrumah dan meja makan 

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur 

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!" 

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga 

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai dalasannya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu 

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar 

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam 

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain 

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah 

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode 

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya. 

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu 

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya 

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman, 

waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen. 

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang." 

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu." 

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri 

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu 

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu." 

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km. 

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA .. JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Kamis, 23 Februari 2012

Silislah Siraja Batak

Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku "Kamus Budaya Batak Toba" karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :

1. GURU TATEA BULAN.
2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN

Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
b. TUAN SARIBURAJA.
c. LIMBONG MULANA.
d. SAGALA RAJA.
e. MALAU RAJA.

- Putri :
1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).

TATEA BULAN artinya "TERTAYANG BULAN" = "TERTATANG BULAN".
RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).

Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.

Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera SI SINGAMANGARAJA), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan SI RAJA BATAK.

SARIBURAJA dan Marga-marga Keturunannya SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari GURU TATEA BULAN. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama SI BORU PAREME dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
Mula-mula SARIBURAJA kawin dengan NAI MARGIRING LAUT, yang melahirkan putra bernama RAJA IBORBORON (BORBOR). Tetapi kemudian SI BORU PAREME menggoda abangnya SARIBURAJA, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA, maka ketiga bersaudara tersebut sepakat untuk membunuh SARIBURAJA. Akibatnya SARIBURAJA menyelamatkan diri dan pergi mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan SI BORU PAREME yang sedang dalam keadaan hamil.

Ketika SI BORU PAREME hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, Tetapi di hutan tersebut SARIBURAJA kebetulan bertemu kembali dengan SI BORU PAREME.
SARIBURAJA datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi "istrinya" di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan SI BORU PAREME di dalam hutan. SI BORU PAREME kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama SI RAJA LONTUNG.

Dari istrinya sang harimau, SARIBURAJA memperoleh seorang putra yang diberi nama SI RAJA BABIAT. Di kemudian hari SI RAJA BABIAT mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BAYOANGIN, karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya.

SARIBURAJA kemudian berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG, Putra pertama dari TUAN SARIBURAJA. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :

- Putra :
a. TUAN SITUMORANG, keturunannya bermarga SITUMORANG.
b. SINAGA RAJA, keturunannya bermarga SINAGA.
c. PANDIANGAN, keturunannya bermarga PANDIANGAN.
d. TOGA NAINGGOLAN, keturunannya bermarga NAINGGOLAN.
e. SIMATUPANG, keturunannya bermarga SIMATUPANG.
f. ARITONANG, keturunannya bermarga ARITONANG.
g. SIREGAR, keturunannya bermarga SIREGAR.

- Putri :
a. SI BORU ANAKPANDAN, kawin dengan TOGA SIHOMBING.
b. SI BORU PANGGABEAN, kawin dengan TOGA SIMAMORA.

Karena semua putra dan putri dari SI RAJA LONTUNG berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama LONTUNG SI SIA MARINA, PASIA BORUNA SIHOMBING SIMAMORA. SI SIA
MARINA = SEMBILAN SATU IBU.

Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUTNIHUTA, SIRINGORINGO,
SITOHANG, RUMAPEA, PADANG, SOLIN.

Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang SIMANJORANG, SIMANDALAHI, BARUTU. Dari keturunan PANDIANGAN, lahir
marga-marga cabang SAMOSIR, GULTOM, PAKPAHAN, SIDARI, SITINJAK, HARIANJA.

Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang RUMAHOMBAR, PARHUSIP, BATUBARA, LUMBAN TUNGKUP, LUMBAN SIANTAR, HUTABALIAN, LUMBAN RAJA, PUSUK, BUATON, NAHULAE.

Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang
TOGATOROP (SITOGATOROP), SIANTURI, SIBURIAN.

Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang OMPU SUNGGU, RAJAGUKGUK, SIMAREMARE.

Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang SILO, DONGARAN, SILALI, SIAGIAN, RITONGA, SORMIN.

SI RAJA BORBOR Putra kedua dari TUAN SARIBURAJA, dilahirkan
oleh NAI MARGIRING LAUT. Semua keturunannya disebut marga BORBOR. Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
1. DATU DALU (SAHANGMAIMA), Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :
a. PASARIBU, BATUBARA, HABEAHAN, BONDAR, GORAT.
b. TINENDANG, TANGKAR.
c. MATONDANG.
d. SARUKSUK.
e. TARIHORAN.
f. PARAPAT.
g. RANGKUTI.

2. SIPAHUTAR, keturunannya bermarga SIPAHUTAR.
3. HARAHAP, keturunannya bermarga HARAHAP.
4. TANJUNG, keturunannya bermarga TANJUNG.
5. DATU PULUNGAN, keturunannya bermarga PULUNGAN.
6. SIMARGOLANG, keturunannya bermarga SIMARGOLANG.

Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya LIMBONG MULANA adalah putra ketiga dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga LIMBONG. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG.
Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.

SAGALA RAJA Putra keempat dari GURU TATEA BULAN. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.

LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya LAU RAJA adalah putra kelima dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. PASE RAJA, keturunannya bermarga PASE.
b. AMBARITA, keturunannya bermarga AMBARITA.
c. GURNING, keturunannya bermarga GURNING.
d. LAMBE RAJA, keturunannya bermarga LAMBE. Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.

TUAN SORIMANGARAJA dan Marga-marga KeturunannyaTUAN SORIMANGARAJA adalah putra pertama dari RAJA ISOMBAON. Dari ketiga putra RAJA ISOMBAON, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
a. SI BORU ANTING MALELA (NAI RASAON), putri dari GURU TATEA BULAN.
b. SI BORU BIDING LAUT (NAI AMBATON), juga putri dari GURU TATEA BULAN.
c. SI BORU SANGGUL HAOMASAN (NAI SUANON).

SI BORU ANTING MALELA melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DJULU (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.

SI BORU BIDING LAUT melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DIJAE (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.
SI BORU SANGGUL HAOMASAN melahirkan putra yang bernama TUAN SORBADIBANUA, gelar NAI SUANON.

NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU / OMPU RAJA NABOLON) Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :
a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.
b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.
c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.
d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung) :

a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.
b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.
c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.
d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.

Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING.
SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN. Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.
Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku "Tarombo Marga Ni Suku Batak" karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :
a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.
b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.
c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.
d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.

NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) : nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON. RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR.


Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :
a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.
b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG. Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.
NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA) : nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya
ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA. TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :
a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.
b. SI PAET TUA.
c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.
d. SI RAJA OLOAN.
e. SI RAJA HUTA LIMA. Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :
a. SI RAJA SUMBA.
b. SI RAJA SOBU.
c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS. Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan - Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut
mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
Keturunan TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.

Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.
b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.
c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.
d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.

Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.
b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.
c. PANGARIBUAN, HUTAPEA

Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
a. SIHALOHO.
b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.
c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.
d. SIDABUTAR.
e. SIDABARIBA, SOLIA.
f. SIDEBANG, BOLIALA.
g. PINTUBATU, SIGIRO.
h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.

Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.
b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.
c. BANGKARA.
d. SINAMBELA, DAIRI.
e. SIHITE, SILEANG.
f. SIMANULLANG.

Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MAHA.
b. SAMBO.
c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.

Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.
b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.

Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. SITOMPUL.
b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.

Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut:
a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.
b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.

***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)

Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga
dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: "Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan", artinya: "Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji". Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
a. MARBUN dengan SIHOTANG.
b. PANJAITAN dengan MANULLANG.
c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.
d. SITORUS dengan HUTAJULU - HUTAHAEAN - ARUAN.
e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.

CATATAN TAMBAHAN:

1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.

2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA.
Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.

3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.

4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.

5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)

6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).

7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, jadi bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN. Selanjutnya biasanya marga SIAGIAN dari TUAN DIBANGARNA akan bertarombo kembali menanyakan asalnya dan nomor keturunan. Kebetulan saya marga SIAGIAN dari PARPAGALOTE.

8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut "Siregar Utara", sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut "Siregar Selatan".

9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).

10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) terdapat beberapa padanan marga yaitu:
a. BUNUREA disebut juga BANUREA.
b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.
c. BARUTU disebut juga BERUTU.
d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.
e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.
f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.

11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.

12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.

13. Jangan keliru (bedakan):
a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
b. SIADARI dengan SIDARI.
c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
d. SARAGI (Batak Toba) tanpa huruf abjad "H" dengan SARAGIH (Batak Simalungun) ada huruf abjad "H".

14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja di pulau Sulawesi.

15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.

Demikian Silsilah Marga Batak.
Mauliate Godang ma dihamu.
Horas 

Panjaitan adalah Bonaniari Nainggolan Parhusip



      Banyak yang tidak mengetahui bahwa Panjaitan adalah Bonaniari Nainggolan Parhusip, termasuk Panjaitan itu sendiri, tapi tidak bagi Parhusip, karena setiap marga Parhusip wajib tau hal ini. Itu yg saya ketahui & berdasarkan pengalaman saya ketika berkunjung ke Samosir.
Untuk itu saya coba menjelaskan berdasarkan yang saya ketahui dari berbagai sumber baik dari Parhusip di Ninggolan (Samosir), Parhusip di perantauan, dari dongan tubu Panjaitan dll. Kalau ada kesalahan atau kekeliruan mohon di koreksi, oke…!  Mari kita mulai…!
Ada baiknya kita liat dulu Tarombo Nainggolan (kalo salah mohon dikoreksi).
Raja Nainggolan, memiliki dua anak yaitu:
Toga Si Batu
& Toga Si Ruma Hombar
Toga Si Batu, memiliki anak 2 orang yaitu: Batuara & Parhusip.
Sedangkan Si Ruma Hombar memiliki 4 anak yaitu:
Lumban Nahor, Mogot Pinayungan, Lumban Siantar & Hutabalian.
  • Toga Parhusip (generasi 1) punya anak 1 Tuan Marnaning (2)
  • Tuan Marnaning punya anak 1 Namora Jollung (3)
  • Namora Jollung punya anak 1 Namora Sobiason (4)
  • Nomora Sobiason punya anak 1 Tuan Saribu Pasir (5)
  • Tuan Saribu Pasir punya anak 1 Pasir Lando (6)
  • Pasir Lando punya anak 1 Lindi Ni Aek (7)
Mulai dari Generasi 1 Toga Parhusip sampai dengan generasi ke 6 Pasir Lando masing2 punya anak Cuma 1. Bisa dibayangkan dalam 6 generasi kurang lebih sekian ratus tahun hanya hidup sendiri tidak punya saudara.
Nah, sampai di sini generasi ke 7 yaitu Lindi Ni Aek beristrikan br Panjaitan bernama Pintaomas, boru dari Si Raja Sijorat II (Panjaitan). Sejak beristrikan br Panjaitan keturunannyapun banyak.
Oke sekarang Saya ulangi lagi biar lebih jelas, Lindi Ni Aek beristrikan Pintaomas br Panjaitan, putri (boru) dari Raja Sijorat II (PANJAITAN). Anaknya ada 5 orang, 4 laki-laki & 1 perempuan:
  • 1. Marsanti Ulubalang
  • 2. Girsang Matabun
  • 3. Pintu Manaor
  • 4. Daon Sihol
Anak perempuannya Boru Limbong Monang, menikah dgn Marga Sirait.
Dari ke 4 anak-anaknya inilah sebutan Marga Parhusip jika saling bertemu bertarombo. Itu sebabnya Marga Panjaitan disebut Bona Ni Ari Marga Parhusip. Semenjak itu keturunan Parhusippun bertambah Banyak.
Cukup di situkah hubungannya…? Tidak..! Karena dibalik cerita ini semua ada cerita yang sangat heroik & menegangkan, mudah2an cerita saya tidak salah karena saya dapatkan langsung dari Marga Parhusip di Nainggolan (Samosir) pada saat saya ke sana. Mereka (marga Parhusip) yg kebetulan ada disitu langsung berkumpul di warung (kede) tempat saya istirahat & langsung memberi salam dengan sangat hormat kepada saya. Sayapun kaget & bingung campur bangga ada apa karena saya belum tahu ceritanya saat itu.
Beginilah mereka bercerita ke saya secara singkat.
Setelah berapa generasi Parhusip Cuma punya anak 1 maka timbullah keinginan Parhusip & Saudara saudara yg lainnya dari marga Nainggolan untuk mencarikan istri buat si Lindi Ni Aek dari boru (perempuan seberang) maksudnya dari luar samosir yaitu boru Toba. Singkat cerita diculiklah boru Panjaitan dari daerah Balige (Toba) dibawa ke Samosir (Nainggolan). Terjadilah perselisihan antara marga Panjaitan dengan Nainggolan. Terdengar kabar bahwa Marga Panjaitan akan datang menyerang Marga Nainggolan ke Samosir. Singkat cerita terjadilah kesepakatan damai setelah Parhusip menceritakan niat baik mereka. Itu sebabnya Marga Parhusip sangat hormat kepada marga Panjaitan. Karena banyak rintangan yang dihadapi marga Nainggolan, tetapi karena kebesaran hati Marga Panjaitan terjadilah kesepakatan perdamaian.
Kemudian berpesanlah Si Lindu Ni Aek kepada generasinya semua, kira-kira begini katanya: “Kita harus hormat kepada marga Panjaitan karena merekalah yang memberi keturunan kepada kita menjadi banyak, sepanjang hidup kita harus menempatkan mereka sebagai HULA-HULA & boru Panjaitan sbg Pariban”.

Tarombo Marga Panjaian





SI RAJA BATAK

RAJA ISOMBAON

TUAN SORIMANGARAJA

TUAN SORBADIBANUA

SIBAGOT NI POHAN

TUAN SIHUBIL - (1)
TUAN SOMANIMBIL - (2)
TUAN DIBANGARNA  - (3)
TUAN SONAK MALELA  - (4)

1. TOGA PANJAITAN/ MATIO TOBA- (1)
SOMBA GURU SILITONGA  - (2)
SIAMPAPAGA LOTE SIAGIAN – (3)
NAMORA DATU SIANIPAR  - (4)

2. RAJA SITUNGO PANJAITAN

PORTIBI RAJA PANJAITAN - (1)
3. RAJA DOGOR PANJAITAN – ( 2)
RAJA SIPONOT PANJAITAN - (3)
RAJA SONGGAK PANJAITAN – (4)
SILUNDU NI PAHU PANJAITAN – (5)
SILUNDU NI PEGE PANJAITAN - (6)
SIJANGGUT NI HUTING PANJAITAN – (7)
SIRAJA BUEA PANJAITAN – (8)
SIRAJA DAIRI PANJAITAN – (9)
SIHITE SIMANULANG PANJAITAN – (10)
SI RAJA BOANG PANJAITAN – (11)

PANGATUR PANJAITAN/ TOBA – (1)
4. RAJA SIAMPORIK PANJAITAN/ PARSAMBILAN PINTU BATU - (2)
GR. SOULANGAN/ HT GINJANG TOBA  - (3)
PARBAROBA / ARSE ANGKOLA- (4)