Rabu, 22 Februari 2012

Pengantar Kecap yang jadi Pendeta

Aku lebih dikenal dengan panggilan Ute. Aku dilahirkan sebagai putra ketiga di antara lima bersaudara, di kota udang Cirebon pada 27 Desember 1960.
Karena kesulitan ekonomi keluarga, aku kemudian ikut saudaraku untuk bisa menyelesaikan SMP-ku di BPK Jakarta. Setelah itu, aku langsung bekerja. Dengan berbekal ijazah SMP yang kukantongi, aku memasuki kota Bandung dan bekerja sebagai buruh pengantar. Setiap hari aku berkeliling kota Bandung untuk mengantar barang dengan menggunakan sepeda angin. Bukannya aku tidak ingin melanjutkan sekolah, namun keadaanlah yang membuat diriku kurang memungkinkan untuk bisa meneruskan sekolah.
Pada suatu hari, saat aku sedang berkeliling kota untuk mengantarkan kecap kepada para langgananku, tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah poster ukuran folio yang tertempel di dinding sebuah toko. Poster itu berada tepat di dinding tempat aku menyandarkan kereta anginku yang sarat dengan botol-botol kecap yang kubawa. Poster itu membuat hatiku tertarik untuk membacanya, sehingga aku sempat merenung beberapa saat lamanya. Poster tersebut lalu kulepas dari dinding tembok dan kukantongi.
Sepanjang perjalanan, sambil mengayuh pedal sepedaku untuk mengantarkan kecap ke para langganan, pengumuman dalam poster tersebut terus mengganggu pikiranku. Begitu aku menyelesaikan tugas, di tempat pekerjaanku poster itu kubaca kembali. Begitu pula yang kulakukan pada sore dan malam harinya saat aku membaringkan tubuhku yang terasa penat di kamarku yang sempit. Aku berulang kali membaca pengumuman dalam poster yang tadi kuambil. Dan akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengikuti lomba baca puisi yang dipublikasikan lewat poster itu.
Setelah mendaftarkan diri di kantor sekretariat panitia lomba, aku kemudian mulai melatih diri untuk membaca puisi sendiri di dalam kamar. Tak ada guru yang membimbing, maklum aku sudah tak bersekolah lagi. Tak ada teman yang bisa mengajari, karena di Bandung ini diriku hanyalah seorang anak rantau yang hidup sebatang kara.
Aku tak pernah bermimpi sama sekali, bahwa lomba baca puisi yang kuikuti karena perbuatan iseng dan hanya mengikuti dorongan hatiku, ternyata akan membuat suatu perubahan hidup bagi masa depanku. Perubahan itu terjadi saat piala kejuaraan Lomba Baca Puisi untuk kelompok pria tingkat SLTA dan Umum se-Kodya Bandung berhasil kuraih. Di atas panggung dan disaksikan pula oleh banyak orang, aku memeluk erat-erat piala pertama yang berhasil kuraih.
Di dalam kamarku yang sempit, aku merenungi kiprah yang telah kulakukan ini, dan yang kemudian menimbulkan rasa percaya diri di hatiku. Di dalam lomba baca puisi itu aku berhasil mengalahkan sederetan para pelajar tingkat SLTA dan mahasiswa, yang kesemuanya masih memiliki status sebagai pelajar. Sedangkan diriku? Hanyalah seorang pengantar kecap!
"Kalau sebagai pengantar kecap saja aku mampu mengalahkan mereka, apakah aku ini juga masih punya kemampuan untuk belajar kembali dan bisa meraih ijazah tingkat SLTA? Apakah aku akan terus saja menjadi pengantar kecap atau kurir barang selama hidupku?" Demikian pertanyaan yang sangat menantang ini terus saja mengusik pikiranku. Terdorong oleh niatku untuk belajar kembali dan menjajal kemampuan diriku, maka aku pun lalu memasuki sekolah malam di SMA YP 17 Bandung. Tiga tahun kulalui tanpa halangan, dan ternyata aku berhasil menyelesaikan studiku dengan baik.
Sementara bersekolah dan bekerja, aku melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan pelayanan di gerejaku, menjadi guru sekolah minggu. Pada waktu gereja tersebut membuka kesempatan pemberian beasiswa bagi siswa yang ingin menempuh sekolah teologi, maka tanpa pikir panjang lagi aku pun segera mendaftarkan diri. Dengan bantuan beasiswa gereja, aku kemudian menjadi mahasiswa di Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta. Di universitas ini, aku aktif berorganisasi di berbagai persekutuan pemuda GKI Ngupasan Yogyakarta, dan melakukan orientasi di berbagai gereja yang ada di Jawa Tengah. Aku juga melayani kegiatan rohani antarmahasiswa, termasuk menjadi pengasuh majalah rohani kampusku.
Selama menjadi mahasiswa di Yogyakarta, aku mengembangkan bakat atau talenta yang Tuhan berikan kepadaku. Di samping sebagai redaktur pengasuh di majalah terbitan kampusku, aku juga menulis berbagai artikel lepas, cerita pendek, dan puisi. Aku pun lalu dikenal sebagai seorang cerpenis muda dengan nama UT Saputro. Beberapa kali cerpenku muncul di majalah remaja Gadis yang terbit di Jakarta. Sejumlah cerpenku yang bernapaskan kristiani sering dimuat di majalah khusus rohani. Di samping menulis cerpen, aku juga berhasil memublikasikan dua karya novelet sebagai sisipan bonus khusus sebuah majalah.
Setelah menyelesaikan pendidikan teologi di UKDW, aku kembali ke Bandung dan kini melayani di GKI Maulana Yusuf, Bandung. Dimulai dengan jabatan sebagai vikaris (pembantu dalam jabatan pimpinan gereja), aku kemudian diangkat sebagai tua-tua khusus, dan kini diriku menjadi pendeta dan pelayan penuh di GKI Jalan Maulana Yusuf, Bandung.
Sekarang aku mengalihkan segala talenta yang kuperoleh untuk berdiri di belakang mimbar, menjadi pengkhotbah di jajaran gereja kelompok GKI. Aku juga mengajar di Sekolah Menengah Farmasi BPK Penabur, Bandung. Namun demikian, kegiatan menulisku masih terus juga kulakukan, di antaranya aku menjadi pengisi ruang khotbah Minggu di Harian Pikiran Rakyat Bandung. 

Diambil dan disunting dari:
Judul buku : Semua Karena Anugerah-Nya
Penulis : Adhy Asmara
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1996
Halaman : 57 -- 62

Kekasih...

Kekasih… 
Suatu ketika aku akan wafat… 
Menyandang bulu dan sayap laksana malaikat 
Dan akan segera ku akhiri cerita 
Saat sisa nafasku berhenti dibatas waktu… 
Bila tiba saat kupergi… 
Jangan ada derai air mata kedukaan 
Karna ratapmu akan patahkan sayapku 
Kepergiaanku menempuh puncak impian, 
Ketika sang utusan merengkuh jiwa ini. 
Hapuslah air matamu… 
Meski terus kau percikan duka atas kepergianku, 
Aku tak akan pernah kembali, 
Dan sungguh tak ingin kembali. 
Biarlah jiwaku tenang berlalu… 
Dalam dekapan hangat sayap malaikat 
Merengguk anggur kebebasan semu 
Diantara setumpuk timbangan perbuatanku 
Aku berharap… 
Jasad matiku kau balut dengan senyum 
Benamkan kebalik tanah penuh ketulusan 
Iringi kepergianku dengan doa 
Mungkin itu akan meringankan bebanku 
Biarlah pusara ini menjadi saksi… 
Bahwa aku pernah mengembara melintasi lembah mimpi 
Sekejap tersenyum merengguk manisnya dosa duniawi 
Yang kini tinggal belulang membujur kaku ditengah sepi… 
Akan kunanti dirimu didepan gerbang keabadian… 
Mungkin dalam penantian ini… 
Masih ada celah 
Tuk wujudkan dahaga rindu ditelaga cinta…

Sabtu, 18 Februari 2012

JATI DIRI ORANG KRISTEN di TENGAH MASYARAKAT

        Masyarakat yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, apabila bepergian, identitas diri atau KTP harus dibawa, karena sewaktu-waktu ada pemeriksaan petugas. Tanpa adanya kartu identitas diri, urusannya menjadi rumit dan kita dapat dianggap sebagai pendatang gelap dan bisa dicurigai salah seorang terorist. Identitas diri merupakan data dan ciri yang dimiliki oleh seseorang, sehingga satu dengan yang lain dapat dibedakan melalui identitasnya itu. Identitas seseorang dalam masyarakat pada umumnya berhubungan dengan nama, jenis kelamin, alamat, status dan pekerjaan.
          Tetapi jati diri yang sebenarnya tidak hanya sekedar mengungkapkan identitas yang sifatnya umum, tetapi identitas yang bersifat khusus yang menyangkut ciri tersendiri; yang dimiliki dan melekat pada seseorang.
Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai orang Kristen, apakah kita mempunyai identitas atau jati diri yang jelas? Yesus berkata dalam Injil Yohanes 13:35: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. Yesus mengingatkan bahwa ciri murid-murid-Nya adalah jika seseorang telah mememiliki kasih yang terpencar dalam kehidupannya. Wujud yang lebih nyata adalah kasih kepada sesamanya. Kasih yang harus dimiliki orang Kristen secara lengkap dan jelas diuraikan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7. kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong dan seterusnya.

1.Jati diri orang Kristen ialah Kasih
         
Jati diri selalu melekat pada diri pemiliknya. Kasih itu harus menyatu dengan kepribadian dan kehidupan orang Kristen, sehingga orang lain dapat membedakan  ciri-ciri tersebut. Jadi sebagai orang Kristen, kita telah menunjukkan kekristenan kita. Tetapi pada kenyataannnya hal ini cukup membingungkan, karena masih ada orang Kristen yang tidak menunjukkan kasih sebagai jati dirinya. Sehingga akhirnya menjadi sorotan dan batu sadungan bagi orang lain.
          Seorang pedagang ikan hias yang menjual berbagai macam ikan, telah memisahkannya menurut jenisnya dalam sebuah akuarium. Pedagang itu paham betul ciri-ciri antara ikan jantan dan betina. Sehingga pada waktu kita membeli sepasang, maka secara otomatis dua ikan yang diambilnya oleh penjualnya jantan dan betina, walaupun sepintas akan terlihat sama. Ciri inilah yang selalu menyatu dengan dirinya dan tidak dapat disembunyikan.
          Segala sesuatu dalam kehidupan masyarakat memiliki ciri tersendiri dan cenderung tetap mempertahankan, bahkan ada yang lebih ekstrem; adat dan budayanya tidak mau dicampuri oleh adat lain. Kita dapat melihat bahwa setiap restoran besar memiliki ciri masing-masing, baik dalam bentuk ruangan, gambar logo, seragam karyawan sampai pada menu dan rasa makanannya. Dan yang sering kita  jumpai adalah  logat berbicara seseorang pun dapat menunjukkan ciri daerah asalnya. Kesimpulannya adalah; ciri-ciri seseorang pada hakikatnya telah menyatu betul dalam dirinya dan tak dapat dipisahkan sama sekali.
         
2.Gereja akan bertumbuh kalau jemaatnya  mempunyai ciri Kasih
Kasih yang merupakan ciri yang dimiliki oleh murid-murid Kristus, harus pula selalu menyatu dan tidak pernah terpisahkan. Kehidupan bergereja harus senantiasa menjadi kehidupan yang indah dan harmonis, karenaa setiap individu telah memiliki kasih yang membuat susanan menjadi damai dan saling memperhatikan satu sama lain. Gereja akan bertumbuh kalau jemaatnya membangun dengan ciri yang dimilikinya yaitu kasih. Dan kasih yang diwujudakan bukan kasih yang berpura-pura, yang dalam istilah umum kasih yang hanya manis di birbir saja.
          Kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan, bahwa kehidupan dalam kasih yang sesungguhnya, kadang-kadang tidak terwujud dalam diri jemaat Tuhan. Bahkan kasih itu sendiri telah berubah menjadi yang sebaliknya yaitu, menjadi  tidak sabar, tidak murah hati, menjadi sombong, memegahkan diri dan seterusnya. Pada pokok katanya kata-kata dalam Surat Rasul Paulus tadi telah berubah menjadi lawan katanya. Suasana gereja sudah tidak harmonis lagi, rasa iri hati dan dengki selalu menyelimuti hati jemaat. Hal itu menyebabkan jemaat tidak dapat bekerja sama lagi, sehingga akhirnya terjadi peprpecahan.
          Tuhan Yesus mengingatkan kita melalui  Injil Yohanes, kalau yang  diwujudkan oleh jemaat adalah sebaliknya, maka sebenarnya  mereka bukan murid-murid-Nya lagi. Karena kasih yang Yesus kehendaki akan menjadikan umat-Nya hidup dalam sejahtera. Oleh karena itu, jemaat perlu membina dirinya melalui firman Tuhan, baik dalam persekutuan maupun pemahaman Alkitab, dan dapat mewujudkan kasih yang dikehendaki Tuhan, tampak dalam setiap pribadi jemaat.
          Hampir dalam setiap kegiatan baik itu di gereja atau di kantor, memerlukan evaluasi, untuk melihat sejauh mana kegiatan itu telah berjalan dan sampai di mana prestasi yang telah dicapai. Kasih yang merupakan ciri orang Kristen dan harus tetap dimiliki, perlu dievaluasi. Dengan demikian dapat dirasakan sejauhmana kasih itu telah menyatu dalam kehidupnanya.Masyarakat yang semakin maju dan dinamis, yang semakin sibuk dengan kepentingannya sendiri, sering lupa akan keberadaan orang lain dan muncullah rasa ego dalam dirinya. Kasih yang sesungguhnya dapat berubah menjadi wujud yang lain. Sehingga jemaat berjalan semakin menjauh dari Tuhan. Dan predikat sebagai murid-murid Yesus sudah tidak pantas untuk disandangnya.
          Jati diri yang merupakan ciri yang menyatu dalam diri murid-murid Kristus, harus mencerminkan kasih yang sesungguhnya terhadap sesama manusia. Mawas diri adalah suatu cara untuk melihat pribadi masing-masing dengan pertanyaan yaitu, masihkah jati diri seorang Kristen melekat pada kita? Sekalipun kita mempunyai banyak penderitaan ?


3.Jati diri iman Kristen di tengah penderitaan
          Sebagai warga Negara Republik Indonesia, kita  berhak marah, kita berhak menyesalkan, kita berhak menuntut, sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang merusak gereja. Selama beberapa  tahun terakhir ini, ratusan gedung gereja dirusak, dihancurkan atau dibakar. Kita berhak marah. Boleh tidak terima. Sebagai warga Negara kita berhak memperoleh perlindungan. Itu sebagai warga Negara Indonesia. Tetapi  sebagai warga Kerajaan Allah yang mempunyai jati diri dengan ciri kasih, kita tidak boleh heran atau terkejut. Itu bagian  dari harga  yang harus kita bayar dalam proses pendidikan integritas. Integritas  iman Kristen di tengah-tengah penderitaan, tetap tegar dalam penderitaan, tahan uji. Terus berserah, tetapi tak pernah menyerah.
Di dalam Alkitab, menjadi pengikut Kristus itu digambarkan dengan bermacam-macam kiasan. Namun, semuanya menunjuk  pada satu kenyataan: menjadi orang Kristen itu tidak selalu enak, tidak Cuma enak. Kiasan pertama: orang Kristen digambarkan sebagai atlit, atlit pelari marathon yang sedang berlomba dan berkutat menuju garis finish.”marilah kita,” begitu menurut Ibrani 12:1”Kita berlomba  dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita”
Kiasan kedua:Orang Kristen digambarkan sebagai petani Di dalam 2 Timoteus 2:6 mengatakan”Seorang petani yang bekerja keras ..” Ada enaknya, tetapi mesti kerja keras dulu.
Kiasan ketiga: orang Kristen digambarkan sebagai perajurit.Bagaimana kita bisa membuktikan  diri bahwa kita adalah perajurit yang baik? Di restoran! Di tempat yang tidak ada pertempuran? Di medan pertempuran. Di dalam 2 Timoteus 2:3-4 selanjutnya mengatakan,”Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus”
          Jadi mempertahankan jati diri iman Kristen memerlukan pejuang, bukan  pecundang!


Pdt.Dr.Luhut P. Hutajulu MTh


Percayalah, Dosamu Sudah Diampuni

Siapakah yang berhak memberikan pengampunan dosa? Hamba Tuhan berhak untuk memberitkaan pengampunan dosa kepada semua manusia yang mau datang dan berdoa di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kita. Kisah orang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus ini, memberitakan bahwa Yesus sebagai Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa manusia sebab Ia adalah utusan Allah. Saat itu, segala manusia yang menderita sakit dipercayai bahwa itu adalah hukuman akan dosa yang telah diperbuat. Sebab itu, barangsiapa yang sedang dihinggapi oleh sakit penyakit, penyakit itu dipahami sebagai hukuman Tuhan akan dosanya. Demikian juga dengan orang lumpuh yang datang kepada Yesus. Yesus hanya mengatakan bahwa “Percayalah, hai anakKu, dosamu sudah diampuni”. Akan tetapi, para ahli Taurat keberatan akan pernyataan Yesus ini, dan mengatakan bahwa Yesus menghujat nama Allah. Yesus mengetahui pikiran mereka dan mengatakan manakah yang lebih mudah mengatakan: Dosamu sudah diampuni atau Bangunlah, dan berjalanlah?, tetapi di dalam dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Dan seketika itu juga orang lumpuh itu bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat itu menjadi takut dan memuliakan Allah yang memberikan kuasa sedemikan kepada manusia.


Kamis, 16 Februari 2012

Tulang Rusuk yang Hilang

Kehidupan cinta yang penuh dengan pertengkaran membuat teman saya ini merasa salah memilih calon pendamping hidupnya yaiu sang pacar yang sudah 4 tahun menemani hari-harinya.
cerita ini untuk kita semua yang sering kali membuat sedih hati orang yang kita sayang
Semoga kisah ini membuat perubahan akan perasaan pada sang kekasih.

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. ”
Lima tahun berlalu…..
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan adayang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”


Sumber: Karisma.

Parumaen Ni dainang


Tuhan Bersamamu

Senin (10/11) sekitar pukul 19.30, siswi kelas 9A SMP Masa Depan Cerah (MDC) itu menutup mata untuk selama-lamanya di RS Darmo,Surabaya. Mela pergi menghadap Tuhan tepat dua bulan lebih sehari setelah merayakan ulang tahun ke-14. Siapa itu Mela? Melathia Eldad Tjendera, Seorang gadis biasa yang energetic. Aktif di gereja. Namun sayang, pada usianya yang ke-13, Dia dinyatakan menderita osteosarcoma (kanker tulang). Sebuah penyakit yg terlalu berat untuk seorang gadis berumur 13 tahun. Bulan Maret 2007, ia menjalani sebuah operasi penggantian tulang kaki. Sebuah batang Titanium berada di dalam kakinya guna menopang tubuhnya. Membayangkannya saja, sudah terasa sakit sekalii…

Mela pun merasakan hal yang serupa. Pada saat menjalani operasi di Singapore, ia pun sampai berteriakk “Tuhannn..Mela ga kuat Tuhann….” Setelah semua itu berakhir, Mela pun kembali ke Surabaya untuk menjalani kehidupannya layaknya seorang gadis remaja berumur 14. Ia pun sempat berkata, “Mela GA AKAN PERNAH MENYERAH.. Mela ingin semua orang yang punya sakit seperti Mela ga pernah menyerah..” Bahkan, Senyum pun masih terpancar di wajahnya. Sesuatu yg sulit dilakukan bagi seseorang yang ,mengalami cobaan yang seperti itu.

Setibanya di Surabaya, segerombol sahabat Mela sudah tak sabar menantikan kedatangan Mela. Mereka sangat menyayangi sahabatnya itu. Mela pun kembali ke sekolah seperti dulu. Ia pun mulai mengejar pelajarannya yang tertinggal selama ia berobat di Singapore. Sahabat-sahabatnya pun selalu setia membantu Mela.
(Jawapos, 12 November 2008).

Menurut Ibunda Mela, Sejak awal bulan lalu, (Oktober 2008) kondisi Mela menurun. Itu diketahui ketika Mela tengah menikmati liburan sekolah di Jakarta. Setelah berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, penggemar penyanyi Korea BoA tersebut mengeluh sakit pada kaki kiri. Rasa sakit itu tak tertahankan sampai membuat Mela berteriak.

Menghindari kemungkinan lebih buruk, Yulie berniat lekas pulang ke Surabaya. Namun, hal itu tidak bisa segera diwujudkan. Yulie yang juga pengusaha katering harus menunggu kedatangan suaminya yang tengah berada di luar negeri. "Begitu suami datang, kami langsung terbang ke Surabaya," katanya.

Sebuah ambulans langsung menyambut kedatangan mereka begitu menapak di Surabaya. Khawatir dengan kondisi sang buah hati ditambah ketidaktahuan terhadap apa yang harus dilakukan, keluarga memutuskan melarikan Mela ke RS Darmo.

Dari pemeriksaan, menurut dokter, rasa sakit itu disebabkan otot kaki Mela mengalami kram. Penyebabnya, otot-otot kaki Mela jarang dilatih. Untuk mengatasi kram tersebut, Mela diinapkan di rumah sakit. Selama seminggu di sana, Mela menjalani terapi fisik. Kondisi penggemar warna biru itu berangsur membaik sehingga diizinkan pulang.

Hanya, tak lama setelah keluar dari RS, Mela terserang batuk. Bukan batuk biasa. Tapi, batuk berdahak yang mengeluarkan darah. Bocah yang punya hobi kerajinan tangan craft itu juga mengeluhkan napasnya yang mulai sesak.

Melihat kondisi itu, hati Yulie langsung hilang rasanya. Kenapa bisa langsung merasa begitu? Sebab, Yulie teringat diagnosis dokter National University Hosiptal (NUH) yang menangani Mela. "Apa yang dirasakan Mela itu seperti ciri-ciri yang pernah dikatakan dokter di Singapura," kata Yulie.

Saat itu dokter mengatakan bahwa osteosarcoma yang dialami Mela tersebut sudah masuk kategori Metastatic. Itu berarti kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. Karena jenisnya kanker tulang, biasanya yang diserang berikutnya adalah paru. Melihat kondisi Mela saat itu, bahkan dokter mengatakan bahwa dia hanya punya kesempatan hidup empat bulan setelah operasi penggantian tulang dilakukan.

"Saya memang jujur dengan semua kondisi yang dialaminya. Tapi saya benar-benar menjaga rahasia tentang prediksi usia yang dikatakan dokter itu," tutur Yulie.

Dan memang benar. Batuk berdarah sekaligus sesak napas itu pertanda bahwa sel kanker sudah bersarang di paru-paru. Batuk tersebut meninggalkan rasa tidak enak pada tenggorakan. Mela jadi enggan makan. Mengonsumsi obat pun sudah tak mau lagi.

Dengan keadaan lambung yang nyaris tak terjamah makanan dan tubuh yang tak terproteksi obat, kondisinya semakin menurun.

Perasaan sedih keluarga semakin membuncah. Tapi, lagi-lagi mereka tidak menyerah. Pada awal November, Mela dimasukkan lagi ke rumah sakit. "Dia sudah tidak bisa makan. Saya pikir, alternatif lain ya memasukkan makanan lewat infus," kata Yulie. Pertimbangan lainnya, dengan di rumah sakit, dokter bisa mengobati keluhan sakit yang dirasakannya.

Saat diperiksa, batuk dan sesak yang dirasakan itu diakibatkan penumpukan cairan pada paru-paru kiri Mela. Untuk meringankan pernapasan, cairan tersebut harus dikeluarkan. Yulie tidak menyembunyikan kenyataan itu dari putrinya. Dia biarkan dokter menginformasikan hal tersebut kepada buah hati kesayangannya.

"Dia sempat tanya sama dokter, kenapa dokter bisa tahu ada cairan di paru-paruku? Dokternya menjawab, ya dari hasil foto rontgenmu, Mela," kenang istri pemilik jasa travel Citigo itu.

Penyedotan pertama dilakukan pada Minggu lalu (2/11). Dokter menyedot 700 cc cairan yang ada di sana. Penyedotan pertama itu masih menyisakan cairan sehingga harus dilakukan penyedotan lagi. Untuk tindakan kali kedua tersebut, Mela sempat menolak. Menurut Yulie, Mela bilang, "Biarkan Tuhan yang mengeringkan paru-paruku, Mami."

Yulie tak memaksa. Dia memberikan pengertian kepada putrinya itu bahwa semua yang terjadi memang atas kuasa Tuhan. "Tapi, Tuhan juga memeberi kesempatan pada orang yang ahli untuk mengeringkan paru-paru dia," katanya. Setelah mendengar itu, Mela pun mau melakukan penyedotan kali kedua.

Selama menjalani hari-hari di RS, Yulie mengatakan, Mela sempat berkata sudah tidak tahan dengan sakit yang dideritanya itu. Dia juga sudah bosan harus berbaring terus. Dia kangen ingin pulang ke rumah. Tapi, aktivis gereja tersebut terus meyakinkan Mela agar tak berhenti berdoa. Mela tak boleh menyerah dan harus yakin bahwa keajaiban tetap bisa datang sewaktu-waktu.

"Yang luar biasa, di tengah kondisinya yang seperti itu, dia sempat mendoakan kami," kata Yulie. "Dia taruh kedua tangannya di atas kepala kami berdua, dia bilang Tuhan tolong kuatkan Mami dan Papi supaya tetap bisa menjaga Mela," ungkap Yulie pelan.

Mela juga mendoakan supaya bisnis papanya lancar, usaha mamanya lancar, dan sekolah kakaknya berhasil. "Dia juga sempat SMS kakaknya. Dia bilang, thanks for being beautiful brother.''

Senin pagi (10/11) sekitar pukul setengah enam pagi, Mela masih tersadar, bahkan sempat mengobrol sejenak dengan Yulie. Setelah itu, dia tidur. Tapi, tidurnya tidak seperti biasa. Menurut Yulie, biasanya setelah tiga jam tidur, Mela akan terbangun. Akan tetapi, saat itu, Mela tidak bangun-bagun hingga siang. Yulie berpikir, jangan-jangan waktunya memang sudah dekat. Yulie hanya bisa menguatkan diri. "Saya bisikkan ke telinganya. Mela, Mami dan Papi sudah rela bila Mela ingin pergi. Mela akan menemukan jawaban Tuhan," katanya.

Begitu kata-kata itu usai dibisikkan, Mela yang sudah tidak sadarkan diri meneteskan air mata. Melihat itu, tangis Yulie pecah. Dia tahu, meski dalam kondisi tak sadar, Mela tetap mendengar.

Menginjak pukul 19.00, kondisi Mela makin melemah. Setengah jam kemudian, dengan ditunggui kedua orang tua, kakak, teman, dan ratusan kerabat dari jemaat gereja, Mela mengembuskan napas terakhir. Mela pergi bertepatan dengan berakhirnya lagu rohani Halleluyah yang diputar di kamar rawat inapnya.

Sahabatku,
Sebuah kisah nyata yang dialami seorang gadis yang tidak pernah menyerah.
Seorang gadis berumur 13 tahun, telah mengalami sebuah proses yang panjang dan penuh sakit. Operasi yang cukup menakutkan ia lewati demi mendapatkan kesembuhan.
Demi dapat menari bersama dengan teman-temannya.
Demi bercanda dengan temannya.
Demi berkumpul bersama keluarganya.
Mela hanya ingin bertahan hidup lebih lama…

Apakah hal itu berlebihan?

Namun, seringkali, manusia terlalu sering mengeluh.
Kurang merasa beruntung.
Kurang cantik.
Kurang pandai.
Tidak berasal dari keluarga yang berada(kaya).
Kurang ini dan kurang itu..

Mgkn mereka selalu melihat ke atas..
LIHATLAH KE BAWAH…

Masih banyak sekali orang yang JAUH kurang beruntung daripada kita.
Seorang Mela hanya berharap untuk bertahan hidup lebih lama. Dan ia harus melewati smua proses itu. So, Bersyukurlah….

Seringkali manusia mudah patah semangat. Mudah meyerah.

Ketika mendapat masalah, dengan mudahnya mengatakan “Susah Banget..”

Dengan mudahnya mengatakan “Udahlah.. Ga bisa. Nyerahh..”

Dengan mudahnya mengatakan, “Udahlah..Males..Capek..”

Mereka mungkin perlu belajar banyak dari Mela.
Seorang gadis yg berusia 13 tahun yang tidak pernah menyerah.
Meskipun hal yang dihadapinya bukanlah hal yang kecil.

Apakah masalah kmu lebih sukar dari Mela?
Jika iya, Mengapa tidak terus berjuang layaknya Mela.
Apakah kamu harus menunggu seseorang yang slalu lebih kuat dari anda
untuk menjadi contoh buat anda?
Kenapa tidak berpkir bahwa kamu pun bisa melebihi seorang Mela? Ya, kamu pasti bisa. Jangan pernah meyerah

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, manusia yang bijak sangat tahu tentang, kapan dia harus mulai berubah dan kapan dia harus tetap pada pendiriannya. Seseorang yang bijak selalu bersedia untuk dibentuk. Selalu siap untuk diproses. Demi menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih berkenan di hadapan Tuhan.

2012
















Lirik Lagu Batak

Ditakko ho ma rohakki
by. Marsada Trio
Si malolongku do marnida ho alai rohakku sai holsoan
Dibahe ekkel suping mi ito manusuk tu pusu-pusukki
Tikki na parjolo pajumpang dohot ho
Sai maila-ila ho tu au…
Jari-jariku do manjalang ho alai taroktok akka bukbak
Ala lambok ni soaram ito mangullus tu si pareokki
Sanga tarhatotong hu panotnoti ho
Tung sonang pakkilalaanki
Ima mulana sai huingot ho ho ito mambaen marsihol au tu ho..
Ditakko ho ma rohakki ito hasian.. dibuat ho nang holongki
Ditakko ho ma rohakki ito
Gabe laos tading do di ho
Jari-jariku do manjalang ho alai taroktok akka bukbak
Ala lambok ni soaram ito mangullus tu si pareokki
Sanga tarhatotong hu panotnoti ho
Tung sonang pakkilalaanki
Ima mulana sai huingot ho ho ito mambaen marsihol au tu ho..
Ditakko ho ma rohakki ito hasian.. dibuat ho nang holongki
Ditakko ho ma rohakki ito gabe laos tading do di ho
Ditakko ho ma rohakki ito gabe laos tading do di ho
 
 
Ditopi ni Tao Toba
By: Trio Marsada
Di topi ni tao toba i
Rap hundul ma au dohot ho
Mamereng dompak dolok
Manaili dompak tao
Tung uli ma nian ido tahe
Mataniari torang manogot i
Lao patiurhon rura dolok natimbo
Alogo pe lambok pangullus mi
Tung sonang tahe hita nadua
Rohakki nian tu ho
Songon tikki di tao toba i
Mardomu dolok i
Tu tao natio
Songon i ma nian nang rohami
Sonang nai molo rap hita nadua
Uli denggan sude nang rohakki
Dang jadi sirang be ra hita na dua
Sai gabe ma sahat tu saur matua
Rohakki nian tu ho
Songon tikki di tao toba i
Mardomu dolok i
Tu tao na tio
Songon i ma nian nang roha mi
Sonang nai molo rap hita nadua
Uli denggan sude nang rohakki
Dang jadi sirang be ra hita nadua
Sai gabe ma sahat tu saur matua
Sonang nai molo rap hita nadua
Uli denggan sude nang rohakki
Dang jadi sirang be ra hita nadua
Sai gabe ma sahat tu saur matua
Sai gabe ma sahat tu saur matua
 
 
Saminggu Dope
Voc. Marsada Trio Aha do ulangin na mambaen ito
boasa sai tu ho pingkiranki
saminggu dope naung hutanda
nungga sai holan ho dirohangki
gabe songon na maoto huhilala da ito
bohi mi dang boi tarbonom
angan sai tu ho
unang sai susah au
unang sai holn ho dipingkiranku
tumagon namai ito dapotononku ho
laos sungkunonku ho
molo olo ho las ma rohangku
molo manjua ho sega mau

Unang pola sukkun bulan
By: Marsada Trio
Boasa sai holan na marsak ho ito
boasa sai holsoan rohami
unang sai pikkiri be roma ho pajonok ma tuson
asa huhaol ho gomos
rap manaon hita na dua disasude na i
Ai holan ho do dingolukku hasian
dohot dibagasan rohakkon
pos roham di au ito dang tadikkonokku hasian
manang tu dia pe au lao
rap manaon hita na dua disasudena i Unang pola sukkun bulan
lao paposhon rohami
dang boi bulan manghatai
ro ma ho tuson ito
unang pola sukkun bintang
lao pasonang rohami
pajonok ma tuson ito
asa huhaol ho gomos
 
 
Oh Duma
Voc. Judika Sihotang
 
Di Borgin i tarsunggul au ito
huingot ho haholongan
soadong be ho dilambungki
masihol au malungun au

holong na dirohakki tu ho
tanom bagas dipusu-pusuki
tung soada be na asing ito
mangganti holong mi

o duma didia ho..
o duma alusi au ito…
huingot do ito hata na nidok mi
ho do ito ho do na gabe rokkap hi
 
 
Ho Do Sasude
Voc. Rani Simbolon
 
Ho do mata mual i di au
Ho do sasude dingolukki
Unang tinggalhon au ito hasian
Holan ho do na di rohakki
Dang na boi tarhalupahon au
Denggan ni basa mi da hasian
Manang di dia pe hu ingot do
Padan naung tapudun i
Holong roham tu au
Songoni do rohakki
Dang namuba ,dang namose i
Tiop ma tangan hon,,,,,
Tapasada Ma ito,padan naung tapudun ni .
Dududu 2x tapagomos ma ito
Dududu 2x padan naung tapudun i
 
 
Parumaen Ni Dainang
Voc. Trio Nirwana
 
Nungga huboan be inang parumaen mi
siboru tinodo ni rohakkki
boru ni raja boru na mora
mora marmaroha
parumaen naung leleng pinaima mi
nagabe sirokkap ni tondikku
dongan marluga disada solu
dingolu-ngolu
paherbang ma tanganmu
ale amang ale inang
lehon pasu-pasu tu hamion anakkonmon
anggiat ma dituppak Tuhan i
marpinoppar jala gabe hami sogot
parumaen na gabe songon panggatti mi
lao pature lao paondihon au
dongan saroha sisada hata disada ngolu

Menantimu selalu


kelam menguliti mentari
berkelebat pendar
rembulan menebar cahaya
pertanda kesempurnaan hadirnya malam
desahnya mengaliri sungai sepanjang dada
melepas muara segalah penatnya hati
menghadang buih_buih kegamangan hidup
dimana badai menjadi warisan
waktu yang bertahta kembali tergenang
diantara kesia_siaan jalanan terpampang lenggang.
berkelebat pendar rembulan,
menangkap genangan comberan kehidupan.
dari setiap sudut yang mengangkangi
remang tanpa malu berbisik,
seakan gerak birahi melepas nestapa
disela rongsokan peristiwa yang terparkir mati menukari hidup.
waktu kembali menancapkan kegelisahan
merasuki dengus bar
lenguhkan lagu birahi tiada birama
namun disini notasi bukan diperlukan
sekedar kenangan yang tak terelakan
sebab alur yang tersisa
menghantarkan gemerlap kerinduan
yang bersahaja sepanjang kegersangan jiwa
hingga geliat malam menjerat kesedihan
mengucurkan luka kesetiaan dalam akar-akar yang tertanam
telah menghempasmu dalam badai
sepanjang dahaga
aku kesepian dalam keramaian waktu