Selasa, 24 April 2012

Patokan dan Aturan Adat

Patokan dan Aturan Adat
(Ruhut–ruhut Paradaton)
Patokan dan aturan adat adalah acuan atau cerminan untuk melaksanakan adat didalam sukacita maupun dukacita yang pelaksanaannya harus didasarkan pada falsafah “ DALIHAN NATOLU “ serta memperhatikan nasihat nenek moyang ( Poda Ni Ompunta)
  • Jolo diseat hata asa diseat raut ( di bicarakan sebelum dilaksanakan)
  • Sidapot solup do na ro (mengikuti adat suhut setempat)
  • Aek Godang tu aek laut, dos ni roha nasaut (Musyawarah mufakat ).
Pasal 1
1. Pada acara pesta perkawinan yang mutlak (mortohonan) suhi ni ampang ñaopat :
a. Pihak paranak (pengantin lelaki) yang terima ulos :
1. Ulos Pansamot : Orang tua pengantin
2. Ulos Paramaan : Abang / adik Orangtua Pengantin
3. Ulos Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin
4. Ulos Sihunti Ampang : Saudara (Ito) atau Namboru Pengantin
b. Pihak Parboru (pengantin perempuan) yang terima sinamot :
1. Sijalo Bara / Paramai : Abang / adik pengantin
2. Sijalo Upa Tulang : Tulang pengantin
3. Sijalo Todoan : Abang / adik Ompung Suhut Pengantin atau
Simandokhon Ito pengantin *(sesuai Hasuhuton&Tonggo Raja).
4. Sijalo Upa Pariban : Kakak atau Namboru Pengantin
c. Urutan Pelaksanaan:
1. Ulos Hela diberikan setelah Ulos Pansamot.
2. Sijalo Paramai diberikan setelah sinamot nagok diterima Suhut Parboru.
2. Pada acara Adat Perkawinan yang harus diperhatikan :
a. Tintin marangkup diberikan kepada Tulang Pengantin pria, bila perkawinan dengan
Pariban Kandung (Boru Tulang), tidak ada Tintin Marangkup.
b. Jumlah Tintin Marangkup, sesuai kesepakatan demikian Panandaion bila ada.
c. Ulos yang diturunkan (tambahan) tidak boleh melebihi tanggungan Parboro.
d. Uang Pinggan Panungpunan, disesuaikan dengan besarnya Sinamot.
e. Undangan pada acara adat Boru Sihombing atau Bere Sihombing, suhu – suhu Ompu yang menerima Sinamot / Tintin Marangkup / Upa Tulang , wajib memberikan ulos Herbang, selain yang memberi ulos Herbang, boleh memberi uang (pembeli ulos).
Pasal 2
Pada Acara Adat Kematian (meniggal dunia), ulos yang berjalan dan acara sesuai tingkat kematian :
1. Meninggalnya dari usia anak-anak sampai usia berkeluarga :
a. Anak-anak dan Boru Sihombing remaja : Lampin atau Saput dari orangtua.
b. Remaja / Pemuda Sihombing : Saput dari Tulang-nya.
c. Kembali dari makan tidak ada acara adat lagi.
2. Meninggal Suami / Isteri :
a. Tingkat kematian ditetapkan dalam Parrapoton / Tonggo Raja.
b. Ulos Saput / Tutup Batang Suami dari Tulang-nya, Ulos Tujung/ Sampetua Istri dari Hula – hula.
c. Ulos Saput / Tutup Batang Istri dari Hula – hula, Ulos Tujung/ Sampetua Suami dari Tulangnya.
d. Urutan pelaksanaan : Saput lebih dulu baruTujung (berubah sesuai kondisi).
e. Tingkat kematian Sarimatua, kembali dari makam ada Acara Buka Tujung, bagi yang masih menerima Tujung.
f. Tingkat kematian Saurmatua, kembali dari makam ada Acara Buka Hombung.
g. Suami meninggal, Tulang-nya Siungkap Hombung; Istri meninggal, Hula-hulanya.
Pasal 3
Parjambaran
Pada setiap Acara Adat Pesta Perkawinan dan kematian berjalan Parjambaran, pada
dasarnya sebelum pelaksanaan harus dibicarakan lebih dahulu :
1. PARJAMBARAN DI ACARA ADAT PESTA PERKAWINAN, PANJUHUTI-NYA PINAHAN / SIGAGAT DUHUT.
a. Mengkawinkan anak laki – laki :
- Bila adatnya alap jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro
- Bila adatnya Taruhon Jual :
Osang utuh diparanak, untuk diberikan kepada hula-hula (Sijalo Tintin Marangkup), ihur-ihur (Upa Suhut) diparanak dan diberikan Ulak Tando Parboru,
Somba – somba dan soit dibagi dua dan parngingian (kiri) di Paranak :
(1). Somba – somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.
(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale-ale, Dongan Sahuta, dll.
(3). Parngingian / Parsanggulan untuk Boru / Bere.
(4). Ikan (dengke) dari Parboru untuk Hasuhuton.
b. Mengawinkan anak Perempuan :
- Bila adatnya Taruhon Jual : Parjambaran Sidapot Solup na Ro.
- Bila adatnya Taruhon Jual :
Osang Utuh di Parboru untuk diberikan ke Hula-hula dan Tulang Rorobot.
Ihur – ihur (Upa Suhut) di Parboru untuk Hasuhuton
Somba – somba dan Soit dibagi dua dan parngingian(kanan) di Parboru :
(1). Somba –somba untuk Horong Hula-hula dan Tulang Rorobot.
(2). Soit untuk Horong Dongan Tubu, Pariban, Ale – ale, Dongan Sahuta, dll.
(3). Parsanggulan / Parngingian untuk Boru / Bere.
2.        PARJAMBARAN DI ACARA KEMATIAN SARI / SAURMATUA, BOAN SIGAGAT DUHUT (Contoh) :
Ulaon : Borsak Simonggur.
Hasuhuton : Hutagurgur.
Bona ni Hasuhutin : Tuan Hinalang.
Suhut Bolon : Datu Parulas.
A. DONGASABUTUHA
1. Panambuli : Anggi Doli Hariara.
2. Pangalapa / Pamultak : Raung Nabolon.
3. Panambak / Sasap : Dongan Tobu.
4. Ihur – ihur / Upa Suhut : Datu Parulas.
5. Uluna / Sipitudai : Jambar Raja (Parsadaan dan Punguan)
Orang biasanya diberikan ke Protokol dan Sitoho-toho.
6. Ungkapan : Haha Doli Suhut Bolon.
7. Gonting : Anggi Doli Suhut Bolon.
B. BORU / BERE / IBEBERE
1 . Tanggalan Rungkung Partogi : Boru ni Prsadaan.
2. Tanggalan Rungkung Mangihut : Boru ni Punguan.
3. Tanggalan Rungkung Bona – bona : Boru Diampuan/Bere – Ibebere.
C. HULA – HULA
1. Tulan Bona : Pangalapan Boru/Hula-hula Tangkas.
2. Tulan Tombuk : Namamupus/Tulang.
3. Somba – somba Siranga : Tulang Rorobot, Bona Tulang, Bona Hula.
Somba – somba Nagok :Bona na ari.
4. Tulan arsiat (Hula-hula, Haha Anggi, & Anak Manjae)
D. DONGAN SAHUTA / RAJA NARO.
1. Botohon : Sipukkha Huta/Dongan Sahuta.
2. Ronsangan : Pemerintah setempat.
3. Soit Nagodang : Paariban, Ale-ale, Pangula ni Huria, Partungkoan.
4. Bonian Tondi : Pangalualuan ni Nipi (teman curhat).
5. Sitoho-toho : Surung-surung ni namanggohi adat (orang yang sering
datang).
6. Pohu : Penggenapi isi tandok Hula-hula
7. Sohe/Tanggo : Penggenapi jambar yang belum dapat, dan lain-lain.
3. PENJELASAN BENTUK DAN LETAK PARJAMBARAN
A. NAMARMIAK-MIAK (PINAHAN LOBU)
1. Osang-osang : rahang bawah
2. Parngingian : kepala bagian atas
3. Haliang : leher
4. Somba-somba : rusuk
5. Soit : persendian
6. Ihur-ihur/Upa Suhut : bagian belakang sampai ekor
Parjambaran Namarmiak – miak di Humbang
(Oleh : Ompu Natasya L. Toruan )
B. SIGAGAT DUHUT
1. Uluna/Sipitu dai : kepala atas dan bawah (tanduk
namarngingi dan osang)
2. Panamboli : potongan leher (sambolan)
3. Pangalapa/Pultahan : perut bagian bawah (tempat belah)
4. Panambak/Sasap : pangkal paha depan
5. Ungkapan : pangkal rusuk depan
6. Gonting : pinggul/punggul
7. Upa Suhut / Ihur-ihur : bagian belakang sampai ekor
8. Tanggalan Rungkung : leher (depan sampai dengan badan)
9. Tulan Bona : paha belakang
10. Tulan Tombuk : pangkal paha belakang
11. Somaba-somba Siranga : rusuk-rusuk besar
12. Somaba-somba Nagok : rusuk paling depan (gelapang)
13. Tulan : kaki di bawah dengkul
14. Botohon : paha depan
15. Ronsangan : tulang dada ( pertemuan rusuk)
16. Soit Nagodang : persendian
17. Bonian Tondi : pangkal rusuk iga
18. Sitoho-toho : sebagian dari osang bawah
19. Pohu : bagian-bagian kecil
20. Sohe/Tanggo-tanggo : cincangan
Parjambaran Sigagat Duhut di Humbang
( Oleh Drs. Togap L. Toruan)

Pasal 4
MANGADATI
Mangadati adalah pelaksanaan ”menerima.membayar” adat perkawinan (marunjuk) yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya, dimana kedua belah pihak orangtua sepakat, adatnya dilaksanakan kemudian dan atau kawin lari (mangalua) dimana acara ini dilaksanakan pihak pengantin laki-laki ( Paranak). Karena itu ”mangadati” tidak sama dan bukanlah manjalo sulang-sulang ni pohompu.
A. Tahapan yang harus dipenuhi sebelum Mangadati :
1. Pada acara partangiangan (pengucapan syukur) pemberkatan nikah, Paranak wajib mengantar ”Ihur-ihur” kepada pihak pengantin perempuan (Parboru) sebagai bukti bahwa putrinya telah di-paraja (dijadikan istri).
2. Pihak paranak melakukan acara manuruk-nuruk (suruk-suruk) meminta maaf dengan membawa makanan adat kepada pihak Parboru(hula-hula).
3. Pihak Paranak melakukan pemberitahuan rencana ”mangadati” kepada pihak Parboru, dengan membawa makan adat. Acara ini merancang (mangarangrangi) ”Somba ni uhum: (sinamot), ulos herbang, dan yang berkaitan dengan mangadati.
B. Acara ”mangadati” dilaksanakan di tempat pihak Paranak, sehinga pelaksanaan sama dengan pesta adat ”taruhon jual”, yakni pihak Parboru datang dalam rombongan membawa beras, ikan, dan ulos.
C. Parjambaran: ”Sidapotsolup do naro”
Pasal 5
MENDAMPINGI, MANGAMAI, MANGAIN
Pengertian umum adalah suatu proses untuk perkawinan campuran antara anaka / boru dengan anak/boru suku/bangsa lain (Marga Sileban), dimana pelaksanaanya dilakukan sesuai dengan adat Batak. Penerapannya dilakukan sesuai tahapan dan aturan masing-masing sebagai berikut :
MENDAMPINGI. Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak, Marga Sileban cukup meminta kepada satu keluarga Sihombing yang mau mendampingi dengan fungsi sebagai wakil/juru bicara/Raja parhata, dengan demikian :
1.        Mendampingi Parboru, Sijalo Sinabot harus Marga Sileban, yang mendampingi hanya menerima uang kehormatan saja.
2.        Mendampingi Paranak, Sijalo Ulos Suhi ni Ampang Naopat harus keluarga suku lain (Marga Sileban), yang mendampingi hanya menerima Ulos Pargomgom.
3.        Yang mendampingi tidak boleh melakukan Tonggo / Ria Raja dan Papungu Tumpak.
MANGAMAI . Marga Sileban yang berkehendak agar anaknya (pria/wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak/boru Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan na marmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangamai dihadapan Dongan Tubu, Boru/Bere, Dongan Sahuta.
Dengan restu hadirin, yang Mangamai mangupa dengan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan tahapan adat perkawinan yang dimaksud pihak Marga Sileban, kemudian Marga Sileban memberikan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua hadirin. Sehingga yang diamai dengan yang Mengamai sudah menjadi Dongan Sahundulan yang sifatnya permanen.
Dalam hal Mangamai Paranak, yang menerima ulos diatur sebagai berikut :
Ulos Pansamot : Orangtua kandung Marga Sileban.
Ulos Paramaan : Yang Mangamai.
Ulos Todoan : Marga Sileban atau keluaga yang Mengamai.
Ulos Sihunti Ampang : Boru yang Mengamau atau Marga Sileban.
Ulos seterusnya diatur pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.
Tintin Marangkup tetap harus diberikan ke Tulang pengantin pria Marga Sileban.
Dalam hal Mangamai Parboru, yang menerima Sinamot/tuhor diatur sebagai berikut :
Sinamot nagok : Orangtua kandung Marga Sileban.
Paramai : yang Mengamai.
Todoan : Marga Sileban atau yang Mengamai.
Pariban : Boru yang Mengamai atau Boru Marga Sileban.
Upa Tulang harus diberikan kepada Tulang pengantin wanita Marga Sileban.
Panandaion/Sipalas roha diatur pembagiaanya sesuai kesepakatan.
MANGAIN. Marga Sileban yang berkehendak anaknya (wanita) melangsungkan perkawinan adat Batak dengan anak(pria) Batak. Marga Sileban harus datang secara adat, membawa makanan namarmiak-miak, memohon kepada keluarga Sihombing yang mau Mangain dihadapan Dongan Tubu,Boru/bere, Hula-hula/Tulang, Dongan Sahuta.
Tahapan Pelaksanaan:
1.        Marga Sileban atau pendampinganya menyerahkan tudu-tudu sipanganon.
2.        Marga Sileban menyerahkan putrinya kepada yang Mangain.
3.        Yang Mangain, marmeme dan manghopol dengan Ulos Mangain.
4.        Hula – hula yang Mangain (Tulangna) memberikan ulos parompa.
5.        Marsipanganon.
6.        Hata Sigabe-gabe.
Yang Mangain akan menempatkan yang diain pada urutan anggota keluarga yang tidak mengubah Panggoran (buha baju) yang sudah ada. Selanjutnya, keluarga yang Mangain bertanggung jawab melaksanakan kewajiban adat Batak kepada yang diain. Pada acara perkawinan yang diain, yang menerima Sinamot Nagok dan Suhi ni Ampang Naopat adalah yang Mangain dan keluarga. Orangtua kandung marga Sileban menerima Sinamot(panandaion) sebagai penghargaan atau penghormatan.
Pada dasarnya kedudukan Anak atau Boru yang Didampingi, Diamai, Diain, tidak sama, dan tidak punya kaitan apapun dengan ”pewarisan”. Masing masing hanya terbatas pada proses adat yang dilakukan.
Pasal 6
MANGANGKAT /MANGADOPSI
Suatu proses seorang anak (pria atau wanita) masuk dalam keluarga menjadi anak/boru, baik karena belum mempunyai keturunan maupun karena suatu hal.
1.        Meminta persetujuan Haha/Anggi dan Ito, serta Hulua-hula(sekandung).
2.        Mengurus kelengkapan dari catatan sipil.
3.        Mengurus babtisan dari gereja.
4.        Melakukan pengukuhan secara adat dihadapan :
- Dongan Tubu
- Hula – hula dan Tulang
- Boru / Bere
- Dongan Sahuta
- Raja Bius (Parsadaan dan Punguan)
5. Untuk acara pengukuhan Boru (putri) oleh namarmiak-miak, tetapi untuk pengukuhan anak (putra) sebaiknya sigagat duhut, karena kehadirannya. Selain pewaris juga akan menjadi penerus keturunan.
Tahapan pelaksanaan :
1.        Penjelasan tentang tata cara.
2.        Pasahat tudu-tudu sipanganon
3.        Hula-hula dan Tulang mangupa / marmeme dan memberi Ulos Parompa
4.        Marsipanganon
5.        Yang Mangangkat menyerahkan Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada semua undangan (Upa Raja Natinonggo).
6.        Pasahat Piso-piso dan Pasituak Natonggi kepada hadirin.
7.        Hata Sigabe-gabe.
Pasal 7
ULOS HERBANG
Ulaos Herbang untuk diberikan ke pihak Paranak pada acara perkawinan Boru Sihombing banyaknya 17 (tujuh belas) lembar, bila ada tambahan/titilan Paranak, tidak boleh lebih dari yang disediakan Sihombing dan Ulos Herbang yang akan diterima pada acara perkawinan anak (putra) Sihombing Banyaknya tidak dibatasi. Dalam menentukan banyaknya Ulos Herbang, hendaknya tetap memperhitungkan waktu penyerahan.
Pasal 8
CATATAN/PERHATIAN
1. Pada setiap acara adat pesta perkawinan dan kematian yang berhak menerima dan memberikan adat aníllala anggota yang sudah diadati (beradat).
2. Pada kejadian dukacita (mate) di mana statusnya Sarimatua atau Saurmatua, bila bonannya Sigagat Duhut, tidak boleh lagi dijalankan teken tes.
3. Acara Patua Hata dan Pargusipon, dapat dilaksanakan oleh tingkat Suhu Ompu, tetapi Acara Tonggo Raja/Rai Raja harus sampai tingkat Borsak Sirumonggur.
4. Pesta adat (unjuk) yang oleh karena keterbatasan, hendaknya tetap ulaon Borsak Sirumonggur, karena hanya menambah lebih 5 (lima) undangan. Misalnya mengundang paling sedikit seorang dari masing-masing : Haha Doli Hutagurgur, Anggi Doli Hariara, Raja parhata, Pengurus Parsadaan Borsak Sirumonggur.
Pasal 9
PENUTUP
1. Patokan dan aturan adat ini dalam penerapannya tidak boleh menjadi beban pikiran dan menimbulkan kerugian Suhut Bolon.
2. Hal-hal yang berjalan di luar Patokan dan Aturan adat ini,harus dicatat menjadi dokumen Pengurus Pusat dan dilaporkan tertulis ke Dewan Pembina.
3. Patokan dan Aturan adat yang Belum tertuang, akan ditetapkan oleh Pengurus Pusat, setelah disetujui oleh Dewan Pembina.

Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.
Pada suatu hari, ayah dan ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.
Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.
Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta ijin kepada abangnya.
“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”
“Untuk keperluan apa, Dik?”
“Aku ingin berburu babi hutan.”
“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”
Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.
“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.
Ia pun segera mengejar babi hutan itu, namun pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.
“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.
Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.
“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.
“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”
Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.
“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.
Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.
“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.
“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.
Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.
“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.
“Aku seorang putri raja yang berkuasa di istana ini.”
“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”
“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”
“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”
“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”
Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.
Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.
Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.
“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”
“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”
“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”
Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:
“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”
“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.
Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.
Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.
“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.
Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.
“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.
“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.
“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.
Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.
Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.
Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.
Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.
Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada dua pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu agar tidak bersifat curang dan egois.
- sifat curang. Sifat ini tercermin pada sifat Sangmaima yang telah menipu abangnya dengan menyuruh wanita burung Ernga pergi dari rumah abangnya secara sembunyi-sembunyi, sehingga abangnya mengira wanita burung Ernga itu hilang. Dengan demikian, abangnya akan merasa bersalah kepadanya.
- sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Sangmaima yang tidak mau memaafkan abangnya dan tidak bersedia menerima ganti rugi dalam bentuk apapun dari abangnya.
note: Ernga – kumbang hijau yang menyerupai burung, yang sangat nyaring suaranya ketika menjerit pada waktu maghrib.

Jumat, 13 April 2012

HATIKU, TEMPAT KEDIAMAN KRISTUS

Di suatu senja, ku undang Kristus memasuki hatiku. Betapa indahnya saat itu! Bukan suatu pengalaman emosi yang gegap gempita, namun suatu pengalaman yang sungguh. Sesuatu terjadi dipusat hidupku. Dia memasuki kegelapan hatiku dan merubahnya menjadi terang. Dia menghangatkan hatiku dan mengenyahkan kedinginannya. Dia menyenandungkan musik, menggantikan hati yang hening sepi. Kekosongan hatiku digantiNya dengan persekutuan ajaib dan penuh kasih dengan diriNya sendiri. Tindakanku membuka hati bagi Kristus, belum pernah kusesali, dan tak akan pernah ~ sampai kekal sekalipun!
Dalam kesukaanku atas hubungan baru ini, ku katakan pada Yesus Kristus, "Tuhan, ku ingin agar hatiku ini menjadi milikMu sepenuhnya. Aku ingin Kau berdiam disini dan betah penuh di dalamnya. Segala yang kumiliki, menjadi milikMu. Mari kutunjukkan semuanya kepadaMu."
Ruang pertama yang kutunjukkan ialah tempat belajarku. Di rumahku, tempat tersebut hanya sebuah meja belajar sederhana, penuh sesak dengan berbagai hal, namun sangat penting artinya. Dalam arti tertentu disinilah pusat pengendali segenap isi rumahku. Dia mendekat dan menyelidik, ke buku-buku di rak, majalah- majalah di meja, dan gambar-gambar di dinding. Sambil ku ikuti tatapanNya, aku mulai merasa gelisah.
Anehnya, sebelum ini tak pernah aku merasa seperti ini. Tetapi sekarang ketika Dia menatap semua benda-benda ini, aku merasa malu. MataNya terlalu kudus untuk melihat beberapa buku yang tergeletak disana. Banyak bahan bacaan lainnya yang tidak pantas dibaca oleh seorang Kristen, sementara gambar-gambar yang terpajang di dinding, membangkitkan lamunan dan pikiran yang memalukan.

Pasang Gambar ini dalam Ingatanmu

Aku berbalik kepadaNya dan berkata, "Tuhan, aku tahu bahwa tempat ini perlu di rombak besar-besaran. Maukah Engkau membantuku menjadikannya sebagaimana seharusnya, dan menaklukkan segenap pikiranku kepadaMu?" "Tentu," jawab Yesus. "Pertama, ambil semua hal yang biasa kau baca dan tatap, namun yang tidak berguna, tidak kudus, tidak baik dan tidak benar. Buanglah semuanya itu. Kini, isilah rak yang kosong itu dengan kitab-kitab yang ada di dalam Alkitab. Penuhi kepustakaanmu dengan Kitab Suci dan "renungkanlah itu siang dan malam." ([sweb]Yosua 1:8*[/sweb]). Sedangkan tentang gambar-gambar di dinding itu, memang agak sukar mengendalikannya, tetapi ada sesuatu yang bisa menolongmu. Dia memberikanku gambar diriNya seukuran tubuhNya, "Gantungkan ini di tengah-tengah," ujarNya, "di pusat pikiranmu."
Ku lakukan semua itu dan kualami di waktu-waktu berikutnya bahwa bila perhatianku berpusat pada Kristus sendiri, kekudusan dan kuasaNya membuat khayalan-khayalan kotor terpukul mundur. Demikianlah Dia membantuku menaklukkan segenap pikiranku.
Dari ruang belajar kami beralih ke ruang makan, ruang dari selera dan keinginan- keinginan. Aku banyak meluangkan waktuku di sini dan benar-benar berusaha memuaskan keinginan-keinginanku. Ku katakan kepadaNya, Ruang ini besar dan aku yakin Engkau akan senang dengan apa yang kami sediakan di sini. "Dia duduk dekatku di pinggir meja makan dan bertanya, "Apa daftar makanan malam ini?" "Ayam bumbu rujak, ikan gurami kuah saos, gulai otak dan hati, Rujak Pengantin dan buah-buah segar atau es krim sebagai pencuci mulut," jawabku bangga. Inilah makanan kesukaanku."
Ketika makanan tersebut dihidangkan di hadapanNya, Dia tak berkata apa-apa. Namun ku lihat, Dia tidak menyantapnya. Lalu kataku kepadaNya, "Tuhan, Engkau tidak suka makanan ini? Ada apa rupanya?" Dia menjawab, "PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal ... Jika kau ingin makanan yang benar-benar memberi kepuasan, cari dan lakukanlah kehendak Bapa, bukan kesukaanmu sendiri, bukan keinginanmu, bukan kepuasanmu, tetapi berusahalah menyukakanKu. Makanan itulah yang akan memuaskanmu." Di meja makan itulah, Dia memberikanku cicipan kesukaan melakukan kehendak Allah. Betapa nikmatnya. Betapa segar, kenyang dan kuat, jiwaku dibuatnya. Tidak ada makanan lain seperti ini di seluruh dunia. Hanya ini yang dapat memberi kepuasan.

Saat-saat Indah di Ruang Ini

Dari kamar makan, kami berjalan ke ruang duduk. Suasana ruang ini terasa akrab dan menyenangkan. Aku menyukainya. Ada tempat duduk yang nyaman, ada lubang angin yang dilalui udara segar dan bersih, dan suasana yang tenang mewarnainya. "Benar-benar menyenangkan ruang ini," ujarNya. "Mari kita sering-sering datang ke sini. Tempatnya tersembunyi dan tenang, dan kita bisa bersekutu bersama."
Nah, tentu saja sebagai seorang Kristen muda aku tergugah. Tidak ada hal lain terpikir olehku ingin kulakukan, kecuali memisahkan beberapa menit untuk persekutuan akrab dengan Kristus. Dia berjanji, "Aku akan berada di sini tiap pagi. Temui aku di sini dan kita akan memulai tiap hari bersama-sama."
Demikianlah, pagi demi pagi, aku ke ruang duduk, atau aku lebih senang menyebutnya ruang "pengasingan diri." Dia memilih salah satu kitab dalam Kitab Suci. Kami membukanya dan membacanya bersama. Dia membeberkan kekayaan kitab tersebut dan mengungkapkan kepadaku kebenaran-kebenaran di dalamnya. Hatiku di hangatkan sementara Dia menyatakan kasih dan karuniaNya terhadapku. Alangkah indahnya saat-saat sedemikian.
Lambat laun, di bawah tekanan berbagai tanggung jawab, saat tersebut menjadi makin singkat. Mengapa, aku tak tahu. Tetapi kukira, aku terlalu sibuk untuk meluangkan waktu dengan Kristus. Ini tidak disengaja tentunya, tetapi terjadi dengan sendirinya. Akhirnya bukan saja waktu tersebut memendek, tetapi kadang- kadang aku bahkan kehilangan kesempatan itu sama sekali. Mungkin disebabkan oleh urusan-urusan darurat, satu-dua hari kesempatan bersekutu pribadi dengan Tuhan, ku hilangkan.
Ku ingat, suatu pagi ketika aku sedang bergegas untuk urusanku hari itu, ku lalui ruang pertemuan kami. Ku lihat pintunya terbentang, ku jenguk ke dalam, lampu menyala dan Tuhan sedang duduk di sana. Segera rasa kecewa terhadap diri sendiri, memenuhi diriku. "Dia tamuku. Aku telah mengundangNya masuk ke dalam hatiku. Dia telah masuk, namun aku telah melupakanNya. Sambil tertunduk malu aku berkata, "Tuhan yang agung, ampuni aku. Tuhan terus berada di sini menungguku tiap pagi?" "Ya," jawab Tuhan. "Sudah kukatakan kepadamu, Aku di sini tiap pagi untuk berjumpa tiap pagi untuk berjumpa denganmu. Ingat, aku mengasihimu. Aku telah menebusmu dengan harga yang mahal. Aku merindukan persekutuanmu. Bahkan jika kau tak dapat memelihara saat teduh untuk kepentinganmu sendiri, lakukanlah itu untukKu."
Kenyataan bahwa Kristus menginginkan persekutuan denganKu, bahwa Dia menginginkan aku bersama Dia, bahwa Dia menantikanku, telah banyak merubah saat teduhku dengan Allah, jauh melebihi faktor-faktor pertimbangan lainnya. Jangan biarkan Kristus menanti sendiri di ruang tamu hati anda. Carilah waktu tiap hari, dengan Alkitab anda dan melalui doa, anda boleh bersekutu denganNya.
Mainan bagi Kerajaan Allah?
Tak lama kemudian Dia bertanya, "Apakah rumahmu memiliki suatu ruang kerja?" Di "lantai bawah rumah" hatiku, ada sebuah gudang dengan seperangkat peralatan ala kadarnya yang jarang kugunakan. Kadang-kadang kubuat sedikit kesibukan dengan beberapa peralatan sederhana, namun tidak pernah menghasilkan apapun yang berarti. Aku sering di hinggapi perasaan tidak mampu.
Ku ajak Dia ke sana. Dia menatap dan berkata, "Wah, sebenarnya cukup perlengkapan kau miliki. Apa yang kau hasilkan untuk Kerajaan Allah?" Dia melihat ke beberapa mainan yang telah kulemparkan ke atas bangku. DiambilNya salah satu dan sambil menunjukkannya kepadaku Dia berkata, "Hanya mainan-mainan kecil ini sajakah yang telah kau hasilkan dalam hidup Kristenmu?"
"Ya," sahutku. "Tuhan, aku tahu ini semua tidak berarti. Sesungguhnya aku ingin berbuat lebih banyak, tetapi nampaknya aku tidak memiliki cukup kekuatan atau kemampuan untuk berbuat lebih."
"Inginkah kau melakukan sesuatu yang lebih baik?" tanyanya. "Tentu," jawabku. "Baiklah. Berikan tanganmu kepadaKu. Sekarang tenangkan dirimu dalamKu dan biarkan RohKu bekerja melaluimu. Aku tahu kau lemah dan kurang mampu, tetapi Roh Kudus adalah Pekerja Ajaib. Jika Ia mengendalikan tangan-tangan dan hatimu, Dia akan bekerja melaluimu." Sambil melangkah berputar kebelakangku dan tanganNya yang besar dan kuat menyanggah tangan-tanganku, di pegangNya alat-alat tersebut dalam jari-jariNya yang terampil. Mulailah Dia bekerja melaluiku. Makin aku tenang dan mempercayai Dia, makin Dia bekerja melalui hidupku.
Sesalku tentang Ruang yang Kacau
Dia bertanya apakah aku memiliki tempat untuk bermain. Sebenarnya aku berharap Dia tidak menanyakan hal itu. Ada berbagai hubungan, persahabatan, kegiatan dan kesenangan tertentu yang ingin kusimpan untuk diriku sendiri. Suatu petang, ketika aku ingin pergi bersama teman-teman sekolahku, Dia menghentikanku dengan tatapanNya dan bertanya, "Ingin keluarkah kau malam ini?" "Ya," jawabku. "Bagus," kataNya. "Aku ingin turut bersamamu." "Oh," jawabku agak ragu, "Tuhan Yesus, ku kira Kau tidak sungguh-sungguh ingin pergi denganku. Bagaimana bila besuk malam saja? Besok malam kita akan pergi ke persekutuan doa, tetapi malam ini aku punya janji lain."
"Maaf," kataNya pula. "Ku kira ketika dulu aku masuk ke dalam rumahmu, kita akan melakukan segala sesuatu bersama-sama, sebagai rekan. Ketahuilah, Aku ingin pergi denganMu."
"Ya, besok sajalah kita pergi bersama," jawabku bergumam sambil keluar melalui pintu.
Malam itu adalah malam paling sengsara. Aku merasa diri tidak layak. Sahabat macam apa aku ini terhadap Kristus, sampai-sampai aku sengaja melewati acaraku dengan teman-temanku, tanpa Dia, melakukan hal-hal dan pergi ke tempat-tempat yang ku tahu benar bahwa Dia tidak akan menyukainya.
Waktu malamnya aku pulang, ku lihat cahaya di ruangNya. Akupun masuk dan membicarakan itu kepadaNya. Kataku, "Tuhan, aku sadar kini, aku tidak dapat memiliki waktu yang indah dan berarti tanpa Engkau. Kita akan mengerjakan segala sesuatu bersama-sama. Lalu kami memasuki "ruang main" yang bising dan tak teratur itu dan Dia merubahnya. Dia memberiku sahabat-sahabat baru ke dalam hidupku, kepuasan-kepuasan baru dan kesukaan-kesukaan baru yang menetap. Sejak saat itu, tawa dan lagu bersenandung terus dirumahku.

Ada Bangkai di Rumah Ini

Suatu hari kujumpai Dia menungguku di ambang pintu. Pandangan mataNya tajam menyelidik. Ketika aku masuk, Dia bertanya kepadaku, "Ada bau tertentu di rumah ini. Bau bangkai di sekitar sini. Dari atas arahnya. Aku yakin bau itu keluar dari lemari dinding itu." Begitu dia menyebutkan kata-kata tersebut, aku segera tahu apa yang dimaksudkanNya.
Ya, ada sebuah lemari dinding kecil di atas sana, kecil tak berarti. Di dalam lemari itu, di balik engsel dan kunci, ada satu-dua barang pribadi yang ku tak ingin diketahui oleh Kristus. Aku tahu bahwa barang-barang tersebut busuk dan buruk, tetapi aku masih sangat menyukainya. Ini membuatku merasa takut untuk mengakui, bahwa barang-barang tersebut ada di sana.
Aku naik ke loteng bersama Dia, dan sambil melangkah naik itu, bau busuk tersebut terasa makin kuat juga. Dia menunjuk ke pintu lemari. Aku marah. Hanya itu yang dapat kulakukan. Aku telah memberi Dia izin mencampuri tempat belajarku, kamar makan, ruang tunggu, tempat kerja, kamar main, dan kini Dia masih mempertanyakan pula soal lemari kecil itu. Dalam hatiku aku berkata, "Terlalu. Aku tak akan menyerahkan anak kunci itu kepadaNya."
Membaca pikiranku, Dia berkata, "Jika kau pikir Aku mau tinggal di sini dengan bau sebusuk ini, kau salah sangka. Aku akan keluar ke serambi!"
Ku lihat Dia mulai melangkah menuruni anak tangga. Pertahananku runtuh. Ketika seseorang mulai mengenal dan mengasihi Kristus, hal terburuk yang biasa dialaminya ialah kehilangan hadiratNya. Aku harus menyerah."
"Aku akan menyerahkan padaMu kuncinya," ujarku sedih. "Tetapi Engkaulah yang harus membuka lemari itu dan membersihkannya. Aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukannya sendiri."
"Serahkan saja kuncinya padaKu," jawabNya. "Berikan padaKu hak untuk mengatur lemari itu."

Ambil Alih Seluruh Kendali

Dengan jari-jari yang gemetar, ku serahkan kunci itu kepadaNya. Dia mengambilnya dan berjalan ke pintu, membukanya, memasuki, mengambil keluar barang-barang yang sedang melapuk dan membusuk dan melemparkannya ke luar. Kemudian Dia membersihkan lemari itu dan mencatnya ulang. Dalam sekejap waktu saja, semuanya sudah selesai. Oh betapa dalamnya kemenangan dan kelepasan yang kualami, sesudah "bangkai" busuk itu keluar dari hidupku!
Selintas terpikir olehku, "Tuhan, adakah kemungkinan Engkau mengambil alih pengelolaan seluruh isi rumah ini dan menjalankannya untukku, seperti yang sudah Kau lakukan dengan lemari tadi? Maukah Kau mengambil tanggungjawab untuk menjaga hidupku, supaya sesuai dengan yang seharusnya?"
Wajahnya berseri-seri ketika Dia menjawab, "Tentu saja, itulah yang selama ini ingin Ku lakukan. Kau tak akan mampu menjadi Kristen berkemenangan dalam kekuatanmu sendiri. Izinkan Aku melakukannya melaluimu dan untukmu. Itulah rahasianya. Tetapi," lanjutnya perlahan, "Aku di sini hanya seorang tamu. Aku tidak memiliki hak untuk berbuat semauKu, sebab harta-milik di sini bukan milikKu."
Sambil tersungkur bertelut, aku berkata, "Tuhan, selama ini Kau ku perlakukan sebagai tamu dan aku bertindak sebagai tuan rumah. Mulai saat ini seterusnya, aku yang menjadi pelayanMu. Engkaulah yang menjadi Tuhan di sini." Dengan berlari sekuat tenagaku menuju kotak penyimpan surat-surat berharga, ku keluarkan buku daftar kepunyaanku, semua harta dan hutang piutangku. Dengan penuh kesungguhan ku tandatangani bukti penyerahan rumah dan isinya kepadaNya saja untuk sekarang dan selama-lamanya. "Ini," kataku "Inilah semua yang kupunya dan seluruh keberadaanku, selama-lamanya. Sekarang Kau aturlah rumahku. Aku akan setia kepadaMu sebagai hamba dan sahabat."
Segalanya berubah dan berbeda, sejak Yesus Kristus menetap dan mendiami sepenuhnya rumah hatiku.

Jumat, 16 Maret 2012

Waktu Berumur

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai 

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembokrumah dan meja makan 

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur 

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!" 

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga 

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai dalasannya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu 

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar 

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam 

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain 

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah 

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode 

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya. 

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu 

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya 

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman, 

waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen. 

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang." 

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu." 

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri 

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu 

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu." 

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu .. sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km. 

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA .. JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU