Kamis, 21 Maret 2013

Kasih itu Menghapuskan

Kasih itu Menghapuskan
Di salah satu toko ada seorang gadis kecil membeli banyak pensil dan penghapus. Penjaga toko pun sangat heran karena gadis kecil itu hanya membeli pensil dan penghapus tanpa membeli satu buku pun.
Penjaga toko pun bertanya, “Mengapa kau membeli banyak pensil dan penghapus? mengapa kau tak membeli buku?”
Gadis kecil pun tersenyum dengan lebar dan menjawab, “Aku sangat membutuhkan pensil dan penghapus karena aku cukup mempunyai selembar kertas saja. Kertas itu adalah hatiku, bila ada yang menyakiti aku, akan kutulis semua pada kertasku, bila sudah penuh maka aku akan menghapusnya sehingga tak ada dendam di hatiku.”
Penjaga toko pun sedikit kebingungan, “Apa yang kau tulis? Bukankah dengan menuliskannya maka kau akan selalu melihat dan mengingatnya?”
Sekali lagi dengan tersenyum gadis kecil itu memberikan jawaban yang luar biasa, “Aku akan menuliskan namanya dan hal yang dia perbuat padaku. Aku akan selalu mengingatnya agar tak lupa mendoakannya setiap malam.”
Kasih itu mampu menghapuskan segala sesuatu yang jahat. Kasih mampu mengubah kutuk menjadi berkat. Kasih mampu memulihkan hati yang terluka karena kasih yang sesungguhnya itu berasal dari Allah.
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
1 Petrus 4:8

Sayangilah Tubuhmu!

Sayangilah Tubuhmu
Ada banyak muda mudi yang hidupnya selalu dituntut oleh tren. Mereka ingin selalu terlihat keren dan tidak ingin disaingi oleh temannya yang lain. Harga diri menjadi alasan utama mereka agar selalu menjadi pusat perhatian.
Mengukir tato pada tubuh, memasang anting yang tidak pada tempatnya, menindik hidung, atau pun yang mau unjuk kekebalan seperti menginjak paku  serta memakan beling/pecahan kaca. Apa yang menjadi tren di masyarakat, itulah yang akan dikejar.
Sayangilah tubuhmu! Di dalam tubuh kita ini ada Roh Allah. Dengan tubuh kita inilah, kita bisa memberkati orang lain. Selain itu yang terutama adalah dengan tubuh jasmanilah kita juga menyembah Tuhan.
Kita adalah kesaksian yang hidup untuk menyaksikan kebaikan Tuhan biar orang-orang di sekitar kita dapat melihat secara nyata betapa besar dan ajaibnya Tuhan kita. Sayangilah tubuhmu! Jaga dan rawat dengan baik apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita karena tubuh yang sehat adalah berkat yang berharga.
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
1 Korintus 6:19

Sabtu, 02 Februari 2013

"Pernahkah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"

"Pernahkah kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"

kata-kata itu selalu ia ucapkan pada kekasihnya itu.



Gadis itu benar-benar mencintai seseorang yang sepantasnya ia pangil paman.

Begitu cintanya ia kepada laki-laki itu sampai ia rela lakukan apa saja asal bisa bersama denganya.

Tidak perduli dengan apapun.



"Aku mencintaimu, tapi maaf tidak bisa menikahimu."

Entahlah.

Berkali-kali laki-laki itu mengucapkan kata cinta tetap saja banyak keraguan didalam hati gadis itu. Dalam benaknya hanya terpikir kalau laki-laki itu hanya ingi mempermaninkanya.



"Kau tahu aku milik orang lain, tapi mengapa tetap memaksakan hubungan ini?"

gadis kecil itu tidak pernah bisa menjawab, mengapa ia selalu memaksakan hubungan yang sudah jelas akhirnya. hanya sebuah kalimat kecil yang selalu menyertai jawabanya. "Karena aku cinta."







Hari dimana mereka harus berpisah semakin dekat. hari itu begitu menyakitkan untuk gadis itu. ia selalu memohon pada kekasihnya agar selalu menemaninya di hari-hari terakhirnya bersama kekasihnya itu.

"Temani aku ya, tiga hari ini saja. setelah itu semuanya berakhir."

kekasihnya tidak pernah menjawab iya ataupun tidak. hanya seperti mengantungkan harapan pada gadis itu.



"Kalau bukan karena cinta." gadis itu mulai meneteskan air mata "Temanilah aku karena kau kasihan padaku."



Tapi entah mengapa kekasihnya tetap saja tidak bisa menemaninya, bahakan hingga hari terakhir dia berada disana kekasihnya tetap diam dan tidak menemuinya.

"Mengapa kau seperti ini kepadaku? apakah aku benar-benar tidak ada artinya untukmu. apakah tidak ada sedikitpun cinta untukku. mengapa kau tidak mau menemuiku. padahal esok kita akan berpisah."

Entah sudah berapa banyak air mata yang telah ia buang untuk kekasihnya itu. ia merasa saat ini cintanya pada laki-laki itu benar-benar tidak ada artinya. sedikitpun laki-laki itu tidak perduli dengan perasaanya.

Kini ia hanya tinggal menghitung jam sampai pagi menjelang dan semuanya berakhir.



"Tuhan, mengapa aku begitu tidak ikhlas kehilangannya. Padahal Engkau sudah memperingatkanku untuk jangan mencintainya. Bahkan akupun tahu dia takan pernah menjadi milikku."



Jarum panjang pada jam dinding itu masih terus berputar. dan entah mengapa lajunya semakin cepat. Beberapa saat kemudian handphone gadis itu berdering.

"Aku didepan rumahmu, keluarlah."

gadis itu berlari kencang keluar rumah, berharap kali ini benar-benar kekasihnya yang ada diluar sana.

Ya, memang dia. berdiri menunduk didepan mobilnya. entahlah, wajahnya tak begitu nampak. apaka dia sedih atau senang gadis itu tidak pernah tahu.

Jam menunjukan pukul 11.45 pm. Malam ini terasa begitu dingin, tapi gadis itu hanya berlari pergi mengejar kekasihnya hanya dengan sedal jepit dan celana pendek serta baju tipisnya.

"Kau tidak ada baju lain?"

gadis itu hanya menggeleng.

"Kenapa tidak pakai jaket?"

"Semuanya sudah kumasukan dalam koper."







Dia masih tetap diam. tidak banyak kata yang dia ucapkan malam itu.

"Kau tidak mau memelukku?" gadis itu menatap kekasihnya pelan.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Tidak ada."

"Kau tidak mencintaiku?"

"Aku cinta padamu."

"Tapi mengapa kau terus menyakitiku?"

"Karena kau juga menyakitiku."

"Aku, menyakitimu? apa, apa yang membuatmu tersakiti."

"Sudahlah, kita ganti topik saja!!" wajah laki-laki itu tampak sedikit marah dan kesal.

"Kau tidak pernah menyayangiku. kau lebih suka melihatku menangis kan." air mata itu sudah terlalu sering dibendung. air matanya sudah tidak tertahan lagi. semua yang ia rasakan pada kekasihnya ia katakan begitu saja tanpa perduli dengan apapun.



"Kau senang aku pergi, karena kau bisa dengan mudah dapatkan pengantiku."

semuanya, semuanya sudah diucapkan. bahkan gadis itupun lupa apa yang tadi ia ucapkan pada kekasihnya.



"Ya semuanya benar!!" laki-laki itu tampak begitu marah. " Kau benar, aku tidak mencintaimu, tidak menyayangimu, aku hanya memanfaatkanmu, dan ya semuanya benar bahwa aku hanya orang jahat. kau puas!!!"



kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan gadis itu tanpa seutas senyumpun untuknya.



matahari mulai nampak. koper-koper itu tampak begitu besar dan berat. Semua kawan-kawannya sudah bersiap didepan rumah hanya tiggal gadis itu.

"Datanglah sebentar saja kerumahku. Sebentar saja." air mata itu terus mengalir. "Kumohon."

"Aku tidak bisa. aku harus bekerja."

"Sebentar saja."

kekasihnya tidak banyak bicara dan segera mematikan telponya.

Sesaat kemudian sebuah pesan singat masuk ke handphonenya.



Maaf aku tidak bisa datang.

Pulanglah.

Suatu hari nanti aku pasti akan menemuimu.

aku mencintaimu.



Kenapa begitu. kenapa laki-laki itu begitu jahat pada gadis itu.

yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah memohon agar kekasihnya bisa datang.

tapi tetap, kekasihnya tidak pernah datang.



"Tuhan, aku benar-benar tidak ikhlas dengan semua ini. kalau Kau sayang padaku, Tuhan. tunjukan padaku kalau dia benar-benar mencintaiku. Perlihatkan padaku kalau ada aku dihatinya."



Bus itu melaju cepat menuju Airport, hinga Doaaaaaaarrrrrrr.... sebuah kecelakan besar menumbangkan bus itu.

4 dari 13 orang penumpangnya mengalama cedera berat, termasuk gadis itu. 7 buah mobil ambulan datang dengan cepat dan mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat.



gadis itu tampak tidak merasakan apa-apa padahal lukanyalah yang paling berat. dia hanya terbaring diam melihat keadaan disekitarnya. hinga seseorang datang dengan berlari dan segera memeluknya.

"Apa yang terjadi padamu?"

gadis itu tetap dia, kini dia bisa merasakan lukanya, begitu sakit, pedih dan sangat menyiksa.

"Dengarkan aku. semuanya akan baik-baik saja. dokter akan menolongmu."

wajah laki-laki itu tampak begitu khawatir.

"Aku, tidak ingin pergi." suara gadis itu terbata-bata "Tidak ingin meninggalakanmu."

"Kau tidak akan pernah meningalkanku dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

"Sa-kit... disini sakit." gadis itu mengengam dadanya kencang, seraya mengisyaratkan sesuatu.

"Semuanya akan baik-baik saja. aku tidak akan meningalkanmu."

gadis itu mulai tersenyum tipis.

"Kau mau kita berpisah kan, sekarang kita akan berpisah. Tuhan tidak mau kita bersama. Dia ingin aku menemaniNya. karena kau tidak bisa menemaniku." Senyum gadis itu semakin melebar tapi wajahnya masih tampak kesakitan. "Kau mau aku pulang kan, aku akan pulang tapi kau tidak bisa menemuiku lagi."

laki-laki itu hanya terdiam. matanya mulai memerah.entah apa yang kini bergejolak dihatinya. begitu pedih dan menyakit.



"Sayang, Pernahkah Kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?"

tubuh gadis ini begitu dingin. denyut nadi dan detak jantungnya mulai tak terdengar. darah segar masih terus mengucur dari hidung dan kepalanya. dan senyum manisnya dibibirnya menemani matanya yang kini mulai tertutup.



Entahlah harus berapa kali kukatakan bahwa aku mencintaimu.

Entahlah apa yang harus kulakukan agar kau percaya aku menyayangimu.

Kau tahu kita takkan pernah bisa bersama, tapi kau terus memaksakan semuanya.
Kau tahu aku tidak akan bisa melihatmu pergi tapi kau terus memaksaku untuk datang.

Sekarang kau benar-benar meningalkanku dan berkata bahwa aku bahagia tanpamu.

Penahkah aku mencinkaimu seperti kau mencitaiku?

Aku pernah mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu dan cintaku lebih besar dari cintamu kepadaku


Jumat, 11 Januari 2013

Berjalan Di Tengah Badai

Pada suatu hari, seperti biasanya aku dan ayah bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan aku yang mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.
“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, Aku bertanya.
“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.
Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.
Aku tetap mengemudi dgn bersusah payah.
Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.
Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku.
Aku mulai takut.
Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.
Setelah melewati bbrpa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pd daerah yg kering & kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.
“Silakan kalau mau berhenti dan keluarlah”, kata Ayah tiba-tiba.
“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.
“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai”.
Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat.
Dan aku mengerti mngapa ayah menyuruhku tetap mengemudi dan berjalan di tengah badai. Aku mlihat mreka yg berhenti dan akkhirnya  terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika kita sdg menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jgn berhenti, jgn putus asa…Sebaliknya  teruslah berjalan dan tetap lakukan yang terbaik, serta tentunya  mengijinkan Tuhan menuntunmu, engkau pasti mampu melewati badai itu..!

Bersabar Dalam Pencobaan


BersabarYakobus 1:2-4 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Dalam Alkitab, Yakobus mengatakan bahwa saat kita menghadapi pencobaan, kita harus menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan. Perhatikan, dia tidak mengatakan “jika” kita menghadapi pencobaan atau kesulitan. Tidak, setiap orang di planet ini pasti akan menghadapi tantangan, hambatan dan kesulitan. Kita semua memiliki saat-saat dimana harapan kita tidak terpenuhi, seorang teman membuat kita down, atau hal-hal yang ternyata tidak terjadi sesuai seperti yang kita rencanakan.
Tapi kita tidak bisa membiarkan tantangan-tantangan menjadi batu sandungan yang menghancurkan kita dan mempengaruhi iman kita. Sebaliknya, kita harus mengubahnya menjadi batu loncatan untuk membuat kita menjadi lebih dekat kepada Tuhan!
Setiap pencobaan ataupun setiap kesulitan yang kita alami adalah saat yang menentukan dalam hidup kita. Kesulitan tersebut bisa menghambat kita atau justru bisa mendorong kita untuk maju menuju hal-hal baik yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Kitalah yang memutuskan bagaimana hal-hal itu akan mempengaruhi kehidupan kita.
Jika kita memilih untuk menjadi pahit dan marah, terus-menerus mengeluh tentang apa yang terjadi, maka kita tidak akan pernah bergerak maju.
Tetapi jika kita memilih untuk memiliki sikap positif, tetap bertahan dalam iman, dan jika kita memilih untuk menemukan sukacita bahkan di tengah-tengah pencobaan kita, maka kita dapat bergerak maju dalam damai dan kemenangan dari Tuhan.
Saya suka hal yang Yakobus katakan kepada kita mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya: ketika kita membiarkan kesabaran untuk bekerja dalam hidup kita, kita menjadi sempurna, tidak kekurangan apapun! Itu sebabnya kita bisa “menganggapnya sebagai kebahagiaan” — karena pada sisi yang lain, kesulitan itu merupakan tempat dari keutuhan, kelimpahan, penyediaan dan kemenangan!

Hanya Bergantung Pada Tuhan

Rahasia Menjadi Kuat dalam Hidup

menjadi kuatTolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar
(2Tawarikh 14:11)
Sebuah dongeng kuno dari Indonesia menceritakan tentang seekor kura-kura yang dapat terbang. Ia menggigit sebatang kayu yang dibawa oleh dua ekor angsa. Pada saat kura-kura itu mendengar orang-orang dari darat yang melihatnya berkata, Wah, cemerlang sekali ide angsa-angsa itu! harga dirinya sangat terluka sehingga ia berteriak, Itu ideku! Tentu saja ia jadi kehilangan pegangan. Harga dirinya telah menjadi kehancuran bagi dirinya.
Selama empat puluh satu tahun, Asa menjadi raja yang kuat dan rendah hati. Ia membawa kedamaian dan kemakmuran bagi kerajaan Yehuda. Dan pada tahun-tahun awal pemerintahannya, Asa menaikkan doa demikian, Ya Tuhan, selain daripada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar (2Tawarikh 14:11).
Namun pada akhir pemerintahannya, ketika pasukan kerajaan Israel bagian utara menyerangnya, Asa mencari pertolongan dari raja Siria dan bukannya dari Allah. Karena kebodohannya, pemerintahannya melemah dan bangsanya mengalami peperangan. Apa yang salah dalam hal ini? Karena bangga dengan keberhasilan masa lalu, Asa telah lupa bahwa seharusnya ia bergantung pada Tuhan, sehingga Tuhan tak lagi menunjukkan diri-Nya kuat demi kepentingan Asa (2Tawarikh 16:9).
Allah masih mencari orang-orang yang mengizinkan Dia untuk menunjukkan kekuatan-Nya dalam hidup mereka. Hidup dengan rendah hati dan bergantung pada Allah merupakan ide yang benar-benar cemerlang!

Perbedaan Iman Dan Perasaan


Beda Iman Dan PerasaanRoma 1:16-17 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’”
Mengapa seseorang yang dapat mengubah keyakinannya secara radikal (atau terlihat radikal) dan sangat bersemangat dengan iman barunya, tiba-tiba menyerah begitu saja? Pada awalnya, orang itu sepertinya mengalami perubahan yang paling menakjubkan, tapi tiba-tiba, ia berhenti dan kemudian melangkah pergi. Bagaimana itu bisa terjadi?
Saya berpendapat bahwa orang tersebut sesungguhnya dari awal tidak berniat mengubah keyakinannya. Ini bukan tentang perasaan sesaat, melainkan tentang ujian waktu. Jika seseorang adalah orang Kristen sejati, maka ia akan melanjutkannya – meskipun tidak sempurna dan bercacat cela dalam menjalani kekristenannya. Bahkan seorang Kristen pun bisa saja tersesat untuk sementara waktu.
Tetapi bagi seseorang yang benar-benar percaya, maka ia akan selalu kembali. Jika mereka pergi dan tidak pernah kembali, maka mereka bukan orang percaya. Seperti pada 1 Yohanes 2:19 dikatakan, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”
Bisa jadi mereka membangun iman mereka diatas pengalaman emosional, dan bisa saja timbul perasaan dalam mengalami perubahan keyakinan, meskipun tidak selalu terjadi. Tapi Anda tidak bisa membangun hidup Anda diatas perasaan sesaat, karena perasaan atau emosi datang dan pergi. Seseorang yang berharap merasakan kehidupan Kristen yang mengebu-gebu setiap harinya, akan kecewa ketika mereka bangun pagi dan tidak merasakan apa-apa. Maka itulah saatnya bagi mereka untuk mulai tumbuh dan berjalan dengan iman, bukan dengan perasaan.
Roma 1:17 mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Namun beberapa orang membangun seluruh relasi mereka dengan Tuhan diatas pengalaman emosional, dan ketika perasaan itu tidak ada, mereka menyerah. Mereka membangun hidup mereka di atas dasar yang salah.

Kisah Mengharukan Anak Yang Mencoret Mobil Ayahnya


Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Kemurahan hati Tuhan

Tuhan memberiMatius 7:11 “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Jika Anda berkata, “Tuhan, aku melihat-Mu sebagai satu-satunya sumber mata pencaharianku, dan ketika aku membutuhkan, aku akan menanam benih,” maka Anda dapat mengharapkan Tuhan untuk mengirimkan panen.
Tuhan akan memberikan buah dari benih yang Anda tanam, bukan karena Anda telah bekerja keras atau menghayati pekerjaan Anda, tetapi semata hanya karena anugerah Tuhan.
Dia setia, dan Dia dapat diandalkan.
Dia akan menyediakan semua kebutuhan Anda, Dia akan memenuhi janji-Nya.
Sekarang pahami hal ini: Tuhan bukan mesin penjual otomatis.
Dia bukan jin yang muncul untuk melakukan setiap perintah Anda, dan Diapun bukan hamba Anda.
Dia adalah seorang Bapa yang penuh kasih, yang terus-menerus membuktikan prinsip-prinsip yang Ia buat melalui Firman-Nya.
Dia menunjukkan kepada kita melalui tokoh-tokoh di dalam Alkitab yang percaya pada Tuhan dan berkata, “Aku akan memberi dari kekuranganku, apakah itu uang, waktu, energi, ide, ataupun empati.”
Alkitab mengatakan, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Matius 7:11)
dan “Hai kalian para ayah, jika anak kalian minta roti, apakah akan kalian beri batu? Jika ia minta ikan, apakah akan kalian beri ular?” (Lukas 11:11).
Tidak mungkin! Allah mengasihi anak-anak-Nya dan Allah sedang menunggu untuk melakukan apa yang tidak terbayangkan dalam hidup Anda.
Allah Dialah yang sanggup menyediakan apa yang Anda butuhkan tapi bukan apa yang Anda inginkan, Dia sangat mengasihi Anda.

Senin, 10 Desember 2012

Kata Tuhan Satu Tahun Saja

Pacar? Hemm, bahkan sampai usiaku yang ke 16 saja, aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Suka sama cowok sih iyaa, tapi kalau untuk pacaran, belum tuh. Yaa, mungkin karena prinsip ku yang sekali jadi untuk seumur hidup. Karena buat aku, pacaran itu bukan untuk maen2, tapi untuk kita ke depannya.
Okee, singkat cerita, aku sudah mau memasuki usia yang ke 17 dan 3 hari sebelum itu, aku kenalan sama seorang cowok dari Facebook dan aku gak tau kalau di Facebook aku ada no hp aku karena Facebook itu buatan temen aku dan lagipula waktu itu aku masih gaptek sama yang namanya Facebook. Akhirnya pas datang hari ulang tahunku, dialah orang pertama yang ngucapin ke aku tepat jam 12 malam lewat sedikit.
Setelah kejadian itu, kita mulai ada pendekatan, dia suka jemput aku waktu aku pulang sekolah atau saat aku ada kegiatan2 lain. Dia juga sudah aku perkenalkan ke orangtua aku dan orangtua ku sangat welcome sama dia. Singkatnya, kami pun akhirnya jadian di bulan Desember 2008.
Perjalanan kisah cinta kita 3 bulan pertama sangat baik dan hebatnya, kami tidak ada pertengkaran selama 3 bulan berjalan. Aku pun sudah mulai ada keyakinan kalau mungkin ini emank jodoh ku walaupun keyakinan ku saat itu hanya 10%.
Masuk bulan ke 4, 5, 6 kita mulai ada pertengkaran-pertengkaran kecil bahkan kita pernah sempat putus cuma kita balik lagi. Lalu masuk bulan 7, 8, 9 wahh, di situ hubungan kami seperti kena badai. Aku mulai merasa tidak nyaman dan aku juga lihat ada sikapnya dia yang “aneh” yang selama ini dia tutupi dengan tampangnya yang yaa lumayan cakep dan polos gitu.
Siapa sangka, dibalik tampangnya itu, ternyata dia adalah seorang cowok yang hypersex. Aku pun baru tahu setelah hubungan kami berumur 9 bulan. Dia mulai mengajak aku untuk melakukan hal2 yang seharusnya belom pantas untuk dilakukan, tapi aku menolak, namun dia memaksa.
Sampai akhirnya, masuk bulan 10 dan 11, hubungan kami sudah rusak parah walaupun status kami masih pacaran, tapi semua sudah hancur. Aku cuma bisa tanya sama Tuhan, aku nangis, aku bingung. Dan sakitnya aku adalah ketika aku mengetahui dia punya cewek lain di belakang aku. Terus aku mau dikemanain?
Masuk bulan ke 12, bulan Desember, bulan dimana kami jadian dan kami akhiri juga di bulan yang sama. Yapp, kita pun akhirnya putus. Sakit banged dehh waktu putus, karena dia itu udaa “ngerusak” aku. Masa mau main tinggalin aku begitu aja? Aku punya hati. Tapi, mau gimana lagi? Kami sudah bubar. Saat itu aku cuma bisa nangis, aku cuma bisa teriak sama Tuhan, tapi Tuhan berhasil menenangkan aku. Tuhan membisikkan dengan lembut kepada ku, “udaa yaa waktu kamu sama dia cukup 1 tahun aja, kalau hubungan kalian lebih dari 1 tahun, kamu sebagau cewek sudah akan benar2 rusak”.
Ketika aku mendengar Tuhan berkata seperti itu, aku diam, aku nangis, tapi perlahan-lahan sakit hatiku mulai hilang. Aku mulai bisa tersenyum lagi. Dan aku juga mengucap syukur sama Tuhan buat kasih-Nya pada ku, buat rangkulan-Nya, buat
perlindungan-Nya yang benar2 aku rasakan.
Satu hal, aku sangat bersyukur hubungan kami bubar, kalau tidak, mungkin aku sudah berumah tangga sekarang. Memang aku tidak bersetubuh sama dia, tapi tetap saja aku tidak bisa menjaga kekudusanku. Tapi saat itu, aku mengerti maksud Tuhan. Tangan Tuhan tetap menjagai aku bahkan sampai detik ini.
Terima kasih Tuhan untuk waktu “1 tahun” yang sudah Tuhan berikan, karena dari situ aku belajar yang namanya “pacaran”. Tapi aku juga tahu, dalam Tuhan itu pacaran harus yang sehat dan aku juga dapat sesuatu, seperti ini, “Cowok yang baik & yang benar2 sayang kita adalah cowok yang menjaga kekudusan kita bukan cowok yang merusak/meminta jatahnya sekarang”.
Inilah sebagian kisah hidup saya dimana Tuhan melawat saya dan memulihkan
hidup saya. Bahkan sekarang Tuhan memanggil saya untuk menjadi pelayana-Nya :)
Kesaksian dikisahkan oleh : Stella